...aku masih membaca gerak gerikmu dari jauhsampai pada suatu titik, dan aku mengurai kembali satu persatu benang yang pernah terajutkulihat di kantung hatimu, sesuatu menyumbul, apakah itu?rupanya masih kau simpan sepotong hatikumari sini kubersihkan, benda itu terlukabanyak duri menancap di sanasatu persatu kucerai berai dan kucabuti duri duri itutapi racunnya sudah terlalu lama membunuhnyawarnanya membiru beradu dengan unguseperti bayi mungil yang kehabisan nafasaku masih meniti kata-katamu satu persatu...kusampaikan milyaran dengan kode-kode rahasiamembalas semua ungkapan rasayang kutangkap sebagian dari surat-surat maya di udara anganambiguitas absolutisme!seperti jeritan-jeritan yang diam-diam kau sampaikansaat sahabatmu berkata "bunuh!"kau berseru "hidup!"saat mereka berbisik "lupakanlah..."kau memekik "ingat!"kata kataku kini penuh jerujisesaat mereka ingin melaju bebas tapi terantuk di sudut-sudut ruangterperangkap tidak berdaya dan tak bergerakbukan sebuah pilihan yang akan kusesalihanya sebuah pilihan yang pernah dipilihtokh, aku nyaman dengan inidan aku bahagia melihatmu seperti ituberterbangan dengan kebebasan seperti biasa,kau selalu menjadi seorang laskar erospendekar phillianabi agapedan ku meniti cita-citamu dari sudut...mencatatnya diam-diam dengan tinta yang terlihatmenumpahkan doa doa dari bukit golgotameneteskan air mata rahasiapercayalah, semua masih tersimpan erat-eratterkunci dengan kode kode rahasia dan tenggelam di lautan terdasarwajah-wajah dan warna-warnacincin besi yang kini entah di manadan geliat manja anak kitaaku merasakannya di dalam...perlahan-lahanmelukis jejak-jejakdiantara mantera-mantera yang kau sisipkan di telingakudan di bukit tengkorak itu, aku merasakannyasaat tangan dan kakiku tertancap paku-pakusakitku, untuk bahagiamusakitmu, untuk kata-katamusaat itu aku menjelma ratu rahasiaancaman-ancamanmuterkubur bersama batukusekarangkau menjelma nabidalam kisah yang akan tertulis nantiBekasi, 3 Oktober 2007
*Dalam belantara keheningan dan zona cendol ingatan