Thera's posts with tag: a very shot story
Dia memasukki kamar temaramnya. Ada yang ingin ia tulis. Mungkin seperti surat atau cerpen. Ah tidak, dia ingin menuliskan sebuah novel. Novel yang bercerita tentang perjalanan peperangan yang selama ini ia jalani. Sudah lama dia bermain-main bersama debu dan mesiu, dan dari wajahnyalah banyak darah dan daging terbakar hingga aromanya mirip seperti sate setengah matang tanpa bumbu kacang. Aroma darah adalah aroma pertama yang ia kenal, bukan aroma ibunya. Memang, karena ia tidak punya ibu. Tankface lahir dari para tukang-tukang mesiu dan ahli senjata berat, bukan oleh adonan suci sel telur dan sperma di malam pertama sepasang pengantin yang sedang jatuh cinta.
Sedari kecil, hidupnya sudah digarisi oleh takdir yang disusun penciptanya. Tankface harus membunuh, bertugas membunuh, menggilas siapapun yang ingin melawannya. Tubuh bajanya tidak akan dapat terlukai, bahkan oleh peluru tercepat. Hingga remaja, dia tidak boleh mengeluh meski tubuhnya memanas saat menyelam dalam teriknya Sahara, atau beku tertusuk dinginnya Kutub Utara. Dan di matanya sudah terlalu biasa dia menyaksikan anak-anak yang kehilangan ibunya, atau pemuda-pemuda yang termutilasi oleh jahanamnya kuasa yang ingin saling memakan. Tankface tidak kenal lelah, dan tidak boleh lelah.
Sampai tiba saatnya, Tankface merasa sudah dewasa dan sadar akan hak-haknya sebagai... manusia tank. Tankface ingin pensiun. Tinggal di sebuah rumah mungil. Hidup dari menjadi saksi akan kejamnya perang, lalu memanjakan anak dan istrinya. Maka Tankface pun berjuang di pengadilan, untuk meraih kebebasannya. Tak perlu lagi dia bertuan pada siapapun, bahkan penciptanya yang arogan.
Bermodalkan cerita sedih dan belas kasihan yang ia pelajari dari sinetron-sinetron di Asia Tenggara, Tankface memenangkan tuntutannya. Kini di sebuah lembah hijau yang asri, Tankface hidup seorang diri. Diam-diam dia mencintai seorang gadis berambut pirang dikepang, anak pak tani desa sebelah.
Tapi apa daya. Manusia mana yang sudi berkelana dalam cinta bersama manusia berwajah tank. Gadis petani berambut pirang dikepang itu menginginkan pria biasa yang tampan, dan lebih baik berprofesi akuntan.
Tankface pun selesai pada lamunannya. Lupakan gadis pirang itu, katanya dalam hati. Menulislah tentang darah dan debu yang memang selama ini kau saksikan. Pena di tangan kiri, kertas di tangan kanan. Satu dua kata dia tulis. Terkadang, emosi tak tertahan. Namun tulisannya sudah beku, karena dia bersembunyi di balik kebohongan. Kebohongan bahwa Tankface ingin menangis meratapi kesedihannya. Tapi apa daya, Tankface tidak berairmata, hanya mesiu yang ia punya.
Kata-katanya redam dalam kebuntuan. Amarah dan kekesalan mulai menggelapkan matanya. Lalu ia merobek kertas, mematahkan pena, memecahkan piring, membanting meja. Amarah-amarah sampai tiba saatnya ia merintih. Tankface kesakitan, sakit atas rasa yang ia sendiri tidak kenal. Perih... perih.., pikirnya. Perih ini menusuk hati, sakitnya tidak dapat diobati. Tankface sekarat, dia hampir mati.
Sebelum ajal menjemput, perempuan perambut pirang berkepang itu muncul kembali dalam angannya. Terlihat wajah sang perempuan dalam bingkau kayu yang sudah lapuk. Melihatnya, hasrat yang tidak dapat dijelaskan datang. Tankface ingin memeluknya, mendekapnya, merasakannya. Menyentuh setiap jengkal dan pekuk tubuhnya. Mencium aroma parfumnya. Membelai rambutnya.
Tankface tahu itu mustahil. Maka berjalanlah tangannya ke arah selangkangan. Menyentuh dan mengelus mencipta rasa gelora yang sulit diutarakan. Kamar mandi dan tangan kanan. Bubuk mesiu larut di selokan. Cinta yang dasyat memang biasanya sulit dilupakan.
Tankface kembali duduk diterangi lampu. Dengan pena di tangan kanan dan kertas di tangan kiri. Hampir ia dibunuh oleh jenuh. Tertekan oleh bosan. Kesendirian, itulah penyakit yang harus ia telan.
Dan disanalah Tankface, saksi peperangan, debu dan darah. Menulis kesaksiannya dengan jeli dan rinci pada sebuah buku hingga akhir hayatnya.
Dan ribuan tahun berikutnya, buku itu sudah menjadi kitab suci yang berbahaya. Kesaksian atas bagaimana manusia saling menghancur dan membunuh. kesaksian bahwa pernah pada suatu hari tempat kita tinggal adalah tempat terdekat dengan neraka, dimana semua serba merah dan berbau darah.
Lalu seekor babi menjadi pengikutnya, nabi terbaiknya, menciptakan sebuah ritual dimana manusia-manusia rendahan bisa memuja Tankface, Tuhannya, lewat karya-karya ajaib sebuah pertunjukkan keindahan. Sekedar peringatan akan dunia yang pernah hilang, di sebuah panggung temaram penuh kesucian.
Babi berdiri, semua umat berdiri. Maka ini saatnya berucap "Briliaaaan!!!" sebagai pengganti kata "amin" yang sudah lama ketinggalan zaman.
Thanks untuk Zeke and the Popo yang mengkaryakan sebuah konser musik teaterikal yang begitu indahnya. Maaf gue lebih banyak memperhatikan si Tankface ketimbang kalian semua... hehehe.... You guys rock!
 Dia berlari tanpa akhir, senja sedang mengejarnya. Senja ini tidak menusukkan cahaya yang panas, melainkan menyabik-nyabik kulitmu dengan dinginnya es yang menusuk. Lalu dia berlari ke lembah-lembah, gunung-gunung, sungai-sungai dan laut-laut. Bersembunyi di balik setiap gedung pencakar langit, pohon-pohon tertinggi, dan gerhana-gerhana yang lari ke sana kemari. Kemanapun lelaki yang buta sebelah itu pergi, senja selalu mengejarnya. Senja selalu berada di Utara, dan kemanapun dia berlari, tetap ada di utara. Lelaki setengah buta itu berangan-angan seandainya saja dia bisa melenyapkan sang senja. Berharap senja tenggelam dan ia pun dapat diselamatkan bulan. Lelah lelaki setengah buta itu berlari dan hampir habis kulitnya tercabik-cabik dingin es. Lelaki buta mendapatkan sebuah ide, mungkin kalau ia mengubur dirinya hidup-hidup, ia akan aman. Ia menyadari bahwa sedikit lagi matanya akan buta total. Pandangannya mulai kabur, menyisakan bias abu-abu di setiap warna-warni yang ia lihat. Ia tahu sebentar lagi ia hanya akan melihat gelap. Lalu mulailah dia menggali kuburannya sendiri dengan tangan-tangan yang sudah berlumur darah dan tanpa kuku. Hari demi hari dia harus terus menggali. Dia harus bertahan hidup dari kejaran sang senja yang memang sudah lama mengincarnya untuk dijadikan santapan berikutnya. Sambil bersembunyi dari senja, dia terus menggali, sesekali bersembunyi lagi saat senja mengintip dari sela-sela dedaunan yang tinggi, di bukit bersetan merah itu. Sedikit lagi ia tidak akan bisa melihat. hanya tinggal titik-titik warna yang bisa dibaca matanya. Senja pun sudah menemukan lelaki nyaris buta itu, dan mulai mencabik-cabik kulit punggung dan bokongnya. Tapi karena sedikit lagi lubang persembunyian itu cukup besar untuk menenggelamkan dirinya ke dalam tanah, maka rasaperih cabikkan-cabikkan itu ia abaikan. Lalu lelaki itu membiarkan dirinya tenggelam dan terbenam di dalam lubang penuh cacing, ular, dan kalajengking. Membiarkan dirinya membusuk bersama tanah. Namun satu hal tertinggal di luar sana, yaitu bola matanya yang nyaris buta. Tubuh tetap menjadi tubuh yang busuk di balik tanah, tetapi mata masih bisa melihat walaupun sedikit. Ia bersembunyi di balik belantara visual yang diciptakan warna warni khayal dan mimpi, sisa-sisa apa yang ia pelajari dari wujud seorang manusia. Dan kala lapar, bola mata menjelma senja yang siap mencari mangsa, siapa saja, namun terutama yang buta. Mencabik-cabiknya dengan cahaya dingin yang perih. Melumpuhkannya pelan-pelan sampai lemah dan mengubur diri sendiri, dan memperbanyak senja-senja berikutnya... sampai tiba saatnya mereka saling memakan satu sama lain ketika tak ditemukan lagi laki-laki setengah buta yang sedang melarikan diri dari kejaran cahaya.
Aku temukan cabang-cabang yang tidak henti-hentinya bergerak, bersenandung, berlari-larian. Seperti matahari yang selalu terpaku pada senja dan manusia-manusia yang selalu terkekang dalam tangis. Dia bermain-main dalam segala warna yang bisa diciptakannya. dan aku kehilangan seni merangkai kata-kata dan lupa akan indahnya proses kreatif mencipta angan bagaikan tuhan. Aku terlalu sibuk memetakan kalian.
Lalu aku katakan dengan sangat menyesal, aku lelah membaca dan berpikir, hidup bersama arus sepetinya lebih indah. Tiada lagi robekkan-robekkan luka yang kubuat sendiri di tubuhku.
Lalu kau katakan dengan tersenyum, akankah kau merasa hidup bersama arus? tidakkah kau hanya akan menjadi sebongkah kayu yang tiada jelas akan berlabuh di mana?
Aku memang tersesat di tengah-tengah ketidak tahuanku. Mersembunyi di balik semak-semak yang pura-pura tidak tahu apa-apa, seperti aku. Maka demikianlah aku semakin tersesat, bersama dengan kalian-kalian yang mengukir nama di kehidupanku. Beberapa mengukirnya di tanganku, beberapa mengukirnya di mataku, beberapa mengukirnya di hatiku. Tapi kurasa, banyak yang tersesat ke liang vagina, terjerembab lalu bingung bagaimana caranya keluar dari lubang harum itu. Maka mereka pun mengukir namanya di sana ketika mengawang-awang bersama harum yang memabukkan.
Aku hanya ingin membuat sebuah peta di pikiranku, agar kelak aku dapat membaca kalian tanpa harus tersesat. kelak aku akan tahu di mana kalian bersarang di tubuhku.
Kemudian datanglah engkau seorang mayat berjalan. tatapanmu yang biru dan kulitmu yang menghijau bisa-bisanya memberiku kekaguman. Membuatku ingin menjadi mayat juga di taman-taman yang pernah dicita-citakan padaku sewaktu kecil. Saat Upik Abu masih menjadi Cinderella si putri bangsawan dengan bibir bergincu, dan Ibu Tiri masih seorang perawan pemalu.
Memuakkan, pemetaan-pemetaan yang malah akan menyesatkan. Betapa aku rindu ketersesatan dalam belantara kesadaran... ketika aku masih bisa mendengar Descartes perlahan-lahan berbisik di telingaku yang naif: cogito ergo sum, Thera... Ditimpa dengan jeritan yang begitu mengerikan namun menyenangkan: Carpe Diem... Karena bagiku momento mori terkadang seperti delusi...
Ibuku mengajarkan aku cara mengikat tali sepatu seperti mengikat dua kuping kelinci secara bersamaan. Tapi, mayoritas dari teman-temanku lebih suka mengikat tali sepatu seperti membiarkan seekor tupai lari mengitari sebatang pohon kecil. Mereka berdebat tentang cara mengikat sepatu yang paling benar, paling nyaman, dan paling mudah. Buatku, dua-duanya sama saja.
Tetapi kemudian aku menemukan cara mengikat tali sepatu yang lebih kreatif. Kumainkan tali sepatu seperti aku membiarkan tupai lari mengejar kelinci di bawah pohon kurus, lalu pohon tersebut tertiup angin hingga ranting-rantingnya kusut dan saling mengikat. Sementara kelinci dan tupai? Mereka piknik dan saling berbagi wortel serta kenari. Ibu dan teman-temanku tidak suka melihat caraku mengikat sepatu, menurut mereka caraku mengikat sepatu adalah penyimpangan dari cara-cara yang lebih benar. Aku tidak peduli, menurutku, tali sepatuku tampak lebih indah dan lebih sulit dilepas sekalipun aku terantuk batu. Aku sering dipandang sebagai anak aneh karena caraku mengikat sepatu, dan ibu serta teman-temanku masih saja mengeluh tentang caraku mengikat sepatu.
Ya, apa peduliku? Mereka bebas mengikat sepatunya dengan cara yang mereka mau. Itu sepatu mereka dan kaki mereka. Ini sepatuku dan ini kakiku. Cara seperti inilah yang paling cocok denganku, dan aku merasa sangat nyaman dengan caraku mengikat sepatuku. Apapun caranya dalam mengikat sepatu, tokh tujuannya tetap sama: mengikat tali sepatu agar tidak terlepas, terinjak, dan tersandung.
Cantik, bagaimana kalau kau tidur saja malam ini. Aku sudah bisa melihat matamu mulai menggantung kantung. Bagaimana kalau kau teruskan saja pikiran-pikiran sisa kelelahan itu dan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk besok pagi? Tubuhmu harus kau cintai, kau rawat, dan kau pelihara. jangan biarkan dia menjadi budak. Jangan biarkan dia dimakan waktu sehingga sari-sarinya mengering, dan hanya debu dan abu yang nanti tersisa.
Cantik, bagaimana kalau kau simpan sedikit waktu untuk beristirahat? Sedikit waktu untuk berteduh? Sedikit waktu memejamkan dan mengistirahatkan mata bening yang mulai mengering itu? hati-hati, nanti kering air matamu dan tak terlihat lagi permata-permata cair yang biasa kau ciptakan itu.
Cantik, bagaimana kalau malam ini kau tidur dalam pelukanku? nah... bagus, seperti itu. Seperti itulah mimpi yang ingin kulihat
Butiran-butiran merah itu menyatu menjadi aliran darah. Hanya satu dua gores saja padahal, tetapi sakitnya bukan main, dan merahnya darah di pergelangan tangan itu terus merampas pandanganku. Hebat sekali perampokan oksigen ini, sehingga perlahan-lahan yang kulihat menjadi tersapu abu-abu dan kabut nyinyir perih ini.
Ini bukan perih di lengan yang pernah dengan sengaja kusilet, ini perih yang datang dari luka yang menganga di hati. Dan setiap wajahnya tiba-tiba meledak di kepalaku, perih ini datang lagi. Lalu kuambil benda apapun yang tajam dan berkarat, lalu mengukir bilah-bilah daging di lenganku dengan warna merah kirmizi yang tajam itu ciptakan.
Dan beginilah caraku mengenyahkan perih dari luka. Luka yang datang dari luka yang mengaga di hatiku. Abstrak rasanya. Kata-kata tidak bisa menjelaskan perihnya, hanya abstrak rasanya saja. Itu sudah.
Sampai saat ini pun, bila kau jeli kau temukan bekas goresan-goresan itu. Sudah nyaris menyatu dengan warna kulit pucatku. Diantaranya tampak entah nadi atau arteri, aku tidak pernah hafal istilah biologi meski ayahku dokter. Goresan-goresan itu yang berhasil membuai malamku dan menenangkanku saat jeritan-jeritan tak lagi tertahankan. Goresan-goresan yang menjadi pabrik butir-butir kirmizi hangat yang kemudian mengalir jatuh ke permukaan. Bercaknya cantik menghias putih seperti kembang api yang meledak atau kelopak bunga yang berceceran menghiasi lantai. Seperti aku yang menyudut di ruangan sepi itu.
Ini luka yang menghentikan air mata. Ini luka nyang mengenyahkan luka. Yang tersisa saat ini hanyalah mantera-mantera untuk shamanku yang membangun sarangnya pada luka.
Menangis sepi. Menangisi sepi. Sepi ditangisi. Sepi dalam tangis. Tangis pada sepi. Sepi. Tangis. Sepi. Tangis. Datanglah kirmizi merah hangatku diantara bekuan luka-lukaku!
Buih buih letupan itu kian menggangu. Memang harus yah kau sisakan sedikin percikan itu untukku? Aku nyaman dengan ini, dan tidak ingin gangguan lagi. Biarkan saja mereka bertukar cairan dengan leluasa, tokh itu bukan urusan siapa siapa. Di sini aku menyaksikan dan tersenyum, membiarkan jemari jemari mencoba menterjemahkan lukisan kata-kata yang tercerai berai di udara.
Hi hi hi.. sungguh tontonan itu menyenangkan bukan? Lalu apa bisnisku dan bisnismu di sana? Biarkan aku sendiri dan bebas melihat apa yang aku mau lihat, apa yang mau aku tulis, apa yang mau aku muntahkan langsung dari tenggorokkan soak yang menggerosok lambung, atau langsung dari dubur penuh kremi itu.
Kadang-kadang hidup ini memang bisa sama busuknya dengan bau bacin di selangkanganmu, dan hidup itu bisa segar sesegar darah dari kambing muda yang baru kau sembelih pagi itu. Tidak ada yang riang dan tidak ada yang tidak dapat kau tidakkan di sini kan?
Tahukah kamu kalau aku bisa menjelma jadi nenek keparat yang jahat, dan aku bisa menjelma jadi putri salju yang belum ternoda dengan selaput dara yang tentu saja masih utuh, siap kau tembus dengan pedang berbisa itu. Tapi saat ini aku memilih untuk tidak berbuat apa apa, membiarkan semua muntahan-muntahanmu berceceran di mana-mana. mengotori tubuhku, mengotori bajuku, mengotori kemaluanku, membiarkan baunya semerbak tercium teman-temanku. Aku tidak punya muka, tidak seperti kau. Aku memilih untuk membiarkan diriku terbenam dalam mencret dan muntahmu meskipun aku bisa membersihkannya dengan parfum mesir desert of the night yang katanya magis itu. Ya, aku biarkan saja aku membusuk dalam kata-katamu, meskipun aku juga bisa membalasmu dengan racun yang lebih beracun darimu. Aku bisa membunuhmu dengan keangkuhanmu sendiri, kesombonganmu sendiri, kelakuanmu sendiri yang selama ini tidak pernah kupercikkan sedikitpun pada tubuhmu.
Kau mau tahu kenapa? Karena aku tidak sepertimu.
Biarlah busuk di tubuhku ini mengendap. Ini lebih baik dari pada kau yang memakan muntahan dan mencretmu sendiri.
ha, dan kau pasti masih mengira bahwa tulisan ini diperuntukkan untukmu! aku hanya mengembalikan cermin yang pernah kau berikan kepadaku. silahkan, berkacalah wahai ksatria...
| |