Thera's posts with tag: book review

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag book review
ReviewReviewReviewReviewThe Handmaid's TaleJun 23, '08 3:44 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Margaret Atwood
I don't want to spoil anything, so I try my best to write this review without retelling the story.

First-half of the book is somewhat boring, but I do enjoy Atwood's imagination of how's the world would be like if women were man's property and had no rights to own money and get a job. It is a dystopian novel (To be more specific, it is somewhat a feminist-dystopian novel, which covers political and religius hypocrisy as well), sets near-future in a tyrannical country named Gilead. And as many other dystopian novels, hypocrisy is always the part of the society-in-power.

Then comes this last-half part of the book with all the suspenses and ironical symbolisms... I hardly ever put the book away from my sight for it is too intriguing to be left behind (reading the book becomes one of my priorities in my to-do-list these days) What unique about the book is, it mainly focuses on... oh, well, I can't spoil it... but I can tell you what I like best from the novel... it's the way Atwood describes the protagonist's feeling in details. The way the character sees things in the novel... it really takes my breath away several times and lets my mind review all those feminist theories_ only this time, in a very elegant way...

It's not a book that tells women to hate men... (the tone of the writing is very clever_ i found no "blaming-on-one-gender" tone) It's a book that tells people what it is like for women (and some men) when they had no access to financial independence, no rights to speak, and even no rights of the ownership of their own female body...

Pro-choice enthusiasts might find this book very interesting...
Pro-life enthusiasts might find this book as a useful input...
Feminists should read this book...
Anti-feminists MUST read this book...

(Fundamentalists... please read this book... heehee)


Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Begum Rokheya Sakhwat Hossain
"Why do you allow yourselves to be shut up?"
"Because it cannot be helped as they as stronger than women"
"A lion is stronger than a man, but it does not enable him to dominate the human race. You have neglected the duty you owe to yourselves and you have lost your natural rights by shutting your eyes to your own interests."
(Sultana's Dream -Begum Rokheya Sakhwat Hossain)


Saya menemukan cerpen Sultana's Dream ketika saya sedang iseng menambah pengetahuan dalam genre science fiction literature di wikipedia. Tiba-tiba saya tertarik untuk mempelajari beberapa term kontemporer yang sebelumnya sangat asing di telinga saya tapi satu hal yang menurut saya paling unik: feminist science fiction. Pendekatan feminis dalam sastra bukan lagi hal yang asing bagi saya, tapi feminist science fiction? Genre sci-fi dengan muatan feminis? Apa pula ini?

Lalu saya mulai addict mempelajari lebih banyak tentang muatan feminis dalam genre literatur yang didominasi kaum pria ini. Sejumlah judul saya catat untuk sewaktu-waktu saya cari. Saya akhirnya tiba pada nama Begum Rokheya Sakhwat Hossain (sumpah namanya susah bgt!) dan cerita pendeknya yang paling terkenal "Sultana's Dream". ternyata tidak sulit mendapatkan cerpen ini, saya bisa bebas mengcopy-paste nya dari situs yang tertera dibawah setelah melobi google.

Sulthana's Dream bercerita tentang seorang perempuan bernama Sulthana yang tiba-tiba bermimpi ke suatu negara yang dipimpin oleh seorang ratu yang sangat bijaksana. Semua elemen dalam ruang publik dipimpin oleh perempuan, sementara laki-laki terpatas pada ruang domestik. Hal ini membuat Sultana terkejut karena sangat berbeda dengan kultur India tempat ia tinggal dimana hanya laki-laki yang boleh sekolah, bekerja, dan menguasai dunia politik, sementara perempuan dilarang keras keluar rumah kecuali ditemani ayah atau kakak laki-laki.

Memang mengerikan, membacanya seolah melihat budaya patriarkhis ekstrim yang sangat terbalik yang dilakukan oleh perempuan, hanya saja memiliki pembenaran-pembenaran dari sudut pandang perempuan. Meskipun karya ini secara jelas adalah sebuah karya feminis, namun stereotyping dan binary opposition antara perempuan dan laki-laki justru diperkuat secara jelas. menurut saya, karya ini pantas disebut "utopian speculative feminist science fiction" (mampus gak luh!?)

Mari, saya jabarkan satu-satu....

Utopia adalah konsep dimana kehidupan manusia berada pada tingkat paling sempurna di segala sektor. Damai, aman, tentram, gak ada perang, gak ada polusi, gak ada populasi berlebih, gak ada kemiskinan, dan gak ada masalah! Utopia (dan distopia, antitesis atau kebalikan dari utopia) juga merupakan suatu konsep yang sering ditemui dalam sastra.

Speculative science fiction adalah salah satu sub-genre dari science fiction dimana proses kreatif sebuah cerita diawali dari usaha menjawab pertanyaan "What if..." Dalam kasus cerpen ini, Hossain berangkat dari usaha menjawab pertanyaan "What if the word is ruled by women?" atau dalam konteks budaya patriarki India pada masa penulisan cerpen ini bisa juga "What if women do what men did to women?"

Lalu, kenapa feminist science fiction? Karena dalam Sultana's Dream terdapat elemen-elemen feminisme dan elemen-elemen dalam genre sci-fi, yaitu adanya gambaran kehidupan masyarakat yang terpengaruhi oleh kemajuan teknologi.

Ohya, ada satu lagi yang hampir ketinggalan, ecofeminism! ecofeminism adalah ideologi feminis yang berhubungan dengan lingkungan dimana seringkali eksistensi perempuan berhubungan erat dengan alam. Cerita pendek ini juga menunjukkan hal itu karena setting 'dunia mimpi' Sultana adalah tempat yang sangat asri dan hijau. Hal ini dikarenakan kemajuan teknologi yang diciptakan kaum perempuan di negara itu tetap ramah lingkungan.

Hhhh! Edan!

Cerita pendek ini memang pendek (namanya juga cerita pendek) namun kaya akan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah saya temui atau dengar. Memang kelemahan cerpen ini adalah memposisikan ideologi feminis pada titik yang cukup ekstrim dan cukup mengerikan bagi orang awam, tapi hal ini seharusnya tidak menjadi masalah karena selalu kembali pada interpretasi masing-masing pembacanya.

Perlu diingat bahwa cerpen ini ditulis Hossain pada tahun 1905, dimana budaya patriarki di India sedang pada puncak-puncaknya. Atas alasan ini saya memaafkan Hossain karena telah membuat feminisme jadi terdengar menakutkan, pasti Hossain melakukannya karena alasan yang kuat; apa yang dia alami pada saat itu juga menakutkan. Terlepas dari hal ini, Sultana's Dream adalah sebuah cerpen yang begitu menarik, terutama atas kekayaan elemen yang dimilikinya. Sedih rasanya ketika saya sampai pada akhir cerita, dimana Sultana, klise memang, terbangun dari mimpinya dan kembali pada dunia aslinya yang partriarkhis (maaf saya jadi spoiler...)

Nilai: 8 (skala 1-10)


Untuk membaca cerpen Sultana's Dream silahkan ke situs:

http://home.earthlink.net/~twoeyesmagazine/issue2/sultana.htm


Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Anthony Burgess
This is the corpus of my thesis. Yep, I choose this book out of hundreds I've read for so many reasons.

Kebanyakan orang pasti lebih tau filmnya yang disutradarai Stanley Kubrick tahun 1971 dibanding buku originalnya. Dan kebanyakan dari temen-temen yang tergila-gila sama filmnya sebenernya kurang melihat esensi dibalik cerita Clockwork Orange ini, terbukti dari alasan mereka "Keren banget settingnya!" atau "Soalnya karyanya Kubrick sih...". No offense to Kubrick's fans out there, I'm a Kubrick fan as well. I won't blame them of course, butuh close reading gila-gilaan untuk bisa melihat itu, dan sudah jadi tugas saya untuk berbagi (since it's part of mys study)

Yang pasti saya tidak akan menjadi spoiler disini. Saya tidak akan menceritakan plot ceritanya, tapi akan memberi alasan kenapa menurut saya karya ini adalah sebuah masterpiece, dan kenapa saya melihat Burgess sebagai seorang penulis yang luar biasa ajaib.

Yang pertama, kekayaan tema di dalam novel ini. Burgess berhasil mengangkat permasalahan filosofis free will (kehendak bebas) vs morality. Pertanyaan seperti: apakah lebih baik menjadi masyarakat yang terkontruksi oleh moralitas atau menjadi manusia utuh yang memiliki kehendak bebas sebebas-bebasnya meskipun dapat merugikan orang lain? Esensi dari hidup sebagai seorang manusia yang utuh adalah kebebasan, pelepasan diri dari semua aturan, mungkin banyak orang yang setuju itu. Kemudian sampai sejauh manakah kebebasan itu harus diusung? Sampai batas manakah moralitas masyarakat berhak merepresi kebebasan manusia, keutuhan esensi dalam arti menjadi manusia? Dilema ini digambarkan Burgess dengan menariknya pada titik seekstrim mungkin, dengan karakter Alex yang ugal-ugalan berbuat seenak jidatnya dan pemerintah hipokrit yang mencoba mem-brainwash Alex dengan ludovico technique dan merepresi kehendak bebasnya.

Selain tema utama tentang free will dan morality, Burgess juga dengan apik mengangkat permasalahan youth culture - sub culture. A Clockwork Orange sudah sejak lama menjadi karya pendorong gerakan-gerakan anti kemapanan, terutama pada subkultur skinhead di Inggris (bahkan di Indonesia). Bersandingan dengan tema youth culture yang diangkat, tema growing up juga tidak boleh dilupakan. Kejeniusan Burgess dalam mengemas tema ini terletak pada segi linguistik buku ini dan strukturnya (nggak heran, he is a linguist afterall). Budaya anak muda digambarkan dengan nadsat language, yaitu bahasa slang yang diciptakan Burgess dengan mengkombinasikan bahasa Rusia dengan cockney English. hasilnya? Sebuah bahasa penggambaran culture anak muda yang original dan timeless, tidak termakan masa, yang pada akhirnya juga membawa buku ini ke dalam imortalitas bahasa nadsat. Burgess bisa saja mengambil slang dari budaya mod atau rockers yang berkembang di Inggris pada masa ia menulis novel ini, tetapi ia memilih untuk menciptakannya sendiri untuk alasan-alasan tersebut. And yes, it works. A Clockwork Orange masih dibaca sampai era 2000an saat ini.

Tema growing up juga ditunjukkan oleh struktur novel yang sangat matang. Novel ini terdiri dari 3 bagian, masing-masing bagian terdiri dari 7 bab yang ketika dijumlah hasilnya 21 bab. Sebuah angka simbol pendewasaan seorang anak laki-laki di Inggris pada masa 60an.

Hal lain yang juga menarik adalah kekerasan dalam karya ini. Kekerasan disini menjadi alat untuk aktualisasi diri, sebuah proses pencarian jati diri Alex dan geng nya. Kekerasan juga menggambarkan tema distopia dalam novel, seperti novel 1945 karya George Orwell, karya ini merupakan kritik terhadap negara yang penuh dengan hipocracy sebagai sebuah efek dari industrialisasi besar-besaran.

Hal yang menjadikan buku ini tidak kalah menarik dengan filmnya adalah keutuhan plot cerita original. Dalam film yang dibuat oleh Kubrick, Kubrick tidak menyertakan bab 21 dari novel ke dalam screenplay untuk alasan "konsistensi cerita". Padahal, kesimpulan dari keseluruhan cerita A Clockwork Orange terdapat pada bab 21 dari novel ini.

Kehebatan Burgess terletak pada bagaimana ia menciptakan Alex, karakter yang cukup ajaib untuk menggambarkan semua isu yang diangkat dalam novel. membaca novel ini membuat saya bingung apakah saya harus simpati atau malah mengutuknya. Tidak ada manusia baik dan manusia jahat, yang ada hanya manusia yang menjadi korban, tak terkecuali Alex. Korban dari bentukan masyarakat yang hipokrit, korban budaya kekerasan, bahkan korban dari kebebasan pikiran.

Jangan harap bisa membaca novel ini dengan santai dan menemukan makna-makna di dalamnya dengan mudah, dan jangan harap bisa menemukan buku terjemahan Indonesianya. Semua ini karena bahasa nadsat yang bisa bikin pusing, but don't worry, kamus nadsat sudah ada di wikipedia.

Saya bingun sekali dengan label apakah saya harus memvonis novel ini. Distopian novel? Youth culture novel? Coming off age novel? Science fiction novel? Ethical philosophy novel? Semuanya masuk-masuk saja. Apa yang saya tulis baru sedikit dari apa yang bisa digali dari novelnya. Adakah pertanyaan? Misalnya, kenapa judulnya A Clockwork Orange? I would be gladly to discuss... :-)

Sooo, "What is it going to be then, eh?" (Alex's famous phrase)


Nilai: 9,5 (Skala 1-10)
NB: maaf penilaian ini sangat subjektif, tapi saya benar-benar tidak menemukan kecacatan dalam novel ini kecuali tingkat kesulitan pembacaan yang benar-benar tinggi. Tapi lagi-lagi, apakah itu sebuah kekurangan?


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help