Thera's posts with tag: contemplation
Sebuah reply di blognya FIFA, temen SMA gue yang kuliah di FSRD ITB (klik namanya untuk link) Betapa indahnya masa kuliah...Dapet uang jajan dari org tua (belom lagi ditambah nyatutnya)Dapet pencerahan dari kuliah2 keren (kuliah umum gak termasuk)Belajar mandiri indekos (dan bebas nginep d mana aja, hiihihii)Jeans robek kaos barongSelinting daun surga di tepi danau UI sambil membaca novel "On the Road" karya Jack KerouacAtau mendengarkan MP3 dimana paman Jim menyanyikan lagu "Alabama Song"Weekend tiba, saatnya manggung bersama band tercintaAtau sekedar kongkow di sudut favorit cafe bawah tanah ituBir dan liquor gratisan pun tak jarang berdatangan (karena uda kenal waitress dan bartendernya)Lalu gue lulus (bangsat..)Bonyok gak mao kasih duit lagi (damn!!!)Mendadak dilarang ngekost karena bonyok takut anaknya makin edan (kembali jadi benalu di rumah mama)Bye bye jeans sobek, welcome rok begoBye bye kaos bali barong bolong2, welcome kemejaBye bye sendal jepit, welcome high heelsBye bye bohemian lifestyle, welcome constructed lifePada akhirnya kita selalu terpaksa menjadi baut kecil di sebuah clockwork raksasa, we're all Clockwork Orange at the end... hiks...(Sastra UI dan FSRD ITB ternyata gak jauh beda yah, Fif...)
Aku adalah tanaman rambat yang melilit di pagar rumahmu. Ibuku rumput liar dan ayahku dandelion. Setiap malam aku merindu ranting-ranting kokoh yang diam-diam membelaiku, memperkenalkan aku pada ruangan tanpa batas antara mimpi dan kenyataan. Setiap saat dibawanya aku pada dunia penuh cermin tanpa kita harus bercermin. Cukup diperkenalkannya aku pada keindahan-keindahan lampu yang meredup di akhir tahun dengan setiap kecupan pertamanya. Aku dibuainya begitu lembut, oleh rangkaian puisi-puisi yang disenandungkannya diam-diam untukku setiap malam menjelang tidur. Tanpa perlu berkata-kata, kami saling tahu betapa kami merindu satu sama lain. Kami meniupkan kecupan tiap malam tanpa harus bertatap, karena hati kami saling terikat diantara mimpi-mimpi yang pernah kami rangkai. Kami memunguti mutiara dan menjadikannya bola mata kami. Bersama bias terangnya kami saling memeluk. Melihat keanggunan realitas khayal masa-masa itu, berjuta-juta detik yang lalu.
Perempuan itu kembali pada tempatnya di sudut ruang. Meringkuk dan membiarkan tubuhnya mengecil menjadi debu di tepian. Seandainya saja angin bisa meniupku kemanapun mereka mau, silahkan, pikirnya.
Wajahnya tidak lagi seindah dahulu kala ketika senyum masih kerap kali menghiburnya. Kini yang tersisa hanya ruang-ruang kosong yang tertanam di hatinya.
Perempuan itu pernah hidup dan menyala. Kini cahayanya redup termakan sudut-sudut kesepian yang kosong. Jemarinya sudah kaku dan tak lagi menuliskan kata-kata. Rupanya arti sudah hilang dari pikirannya.
Perempuan itu kembali pada tempat menyepinya di sudut ruang. Merasakan benar-benar kepedihan yang paling dalam. Membiarkan rasa sakit mengajarinya arti hidup.
You were there. I knew it. I felt it. You were there. Inside me. You lived within me. You were there. In progress of creating. In process of being. You were there. Soulless. Bodiless. Nameless. Unnoticed. But I don't care. Deep inside, I believe you were there.
If my womb was too ferocious, at least, you were there alive in my imagination
Ibuku mengajarkan aku cara mengikat tali sepatu seperti mengikat dua kuping kelinci secara bersamaan. Tapi, mayoritas dari teman-temanku lebih suka mengikat tali sepatu seperti membiarkan seekor tupai lari mengitari sebatang pohon kecil. Mereka berdebat tentang cara mengikat sepatu yang paling benar, paling nyaman, dan paling mudah. Buatku, dua-duanya sama saja.
Tetapi kemudian aku menemukan cara mengikat tali sepatu yang lebih kreatif. Kumainkan tali sepatu seperti aku membiarkan tupai lari mengejar kelinci di bawah pohon kurus, lalu pohon tersebut tertiup angin hingga ranting-rantingnya kusut dan saling mengikat. Sementara kelinci dan tupai? Mereka piknik dan saling berbagi wortel serta kenari. Ibu dan teman-temanku tidak suka melihat caraku mengikat sepatu, menurut mereka caraku mengikat sepatu adalah penyimpangan dari cara-cara yang lebih benar. Aku tidak peduli, menurutku, tali sepatuku tampak lebih indah dan lebih sulit dilepas sekalipun aku terantuk batu. Aku sering dipandang sebagai anak aneh karena caraku mengikat sepatu, dan ibu serta teman-temanku masih saja mengeluh tentang caraku mengikat sepatu.
Ya, apa peduliku? Mereka bebas mengikat sepatunya dengan cara yang mereka mau. Itu sepatu mereka dan kaki mereka. Ini sepatuku dan ini kakiku. Cara seperti inilah yang paling cocok denganku, dan aku merasa sangat nyaman dengan caraku mengikat sepatuku. Apapun caranya dalam mengikat sepatu, tokh tujuannya tetap sama: mengikat tali sepatu agar tidak terlepas, terinjak, dan tersandung.
choose life, choose a carieer...
The opening voice-over of Trainspotting the movie has been pasted in my mind for quite a while now. I still remember how it felt when I was mesmerized by the way that film's subtleness depicted its beauty. Transpotting as a beauty? For me, yes. The beauty of rebelling toward the so-called conventional system, and the beauty of coming-of phase in every man's life. I am really into that kindda stuff, that is sort of like my lifetime thesis. This is what I've been doing whole my life. I choose. I am here now because I've made tons of decisions. I decided to major in the language class and ended up graduated from English Studies UI with quite a satisfaction. I decided to express my sadness and anger positively by singing. And I decided to teach, to share whatever I can share with others, because I have an urge to do so. And here I am now, wondering around through mazes of choices. And I simply can't choose anything. I am, once again, in a state of complete blindness, mentally impaired, having to not knowing what I should do with my life. I thought I had been doing what I wanted to do, teaching, singing, writing, etcetera. But then again, I always confused along the way without achieving he best of whatever I've been doing. I feel like I am such a failure sometimes. I really don't know what to do with my life at this moment. I am bored. I am confused. I choose not to move. I choose stagnancy. I need time to figure out my pace in life. Just for now, hopefully... I if I hate to be like this forever. I used to be the alpha girl in my society, I used to be the matador in the dusty field. Now, I am simply just a clueless girl in anothe life's maze...
| |