Thera's posts with tag: literature

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag literature
Blog EntryThe Come-Back of the Metaphorical Maestro!Jul 7, '08 3:04 AM
for everyone
It was 4 years ago, in 2004, when I met 'the great' Ayu Utami at a creative writing workshop. She told us_participants_ that she's now working on her next novel about wall climbers.

About 2 years later, precisely in 2006, English Lit department in UI held a literature appreciation event with anti-violence against women theme. Ayu Utami is one of the keynote speaker. As my friends knew that I was a freakin'fan of Ayu Utami, they told me to be the liason officer for Ayu Utami. I had to pick her up at her house (a great opportunity to peek into her living room, which also her personal library. Never had I seen sooooo many books in one's personal lilbrary, full with rare collection documents!)

On the way to the venue, I asked about her novel in progress. Why so long? I asked, can't wait for more metaphorical sensation of hers. She said that she want to have the best result, not merely catching up with other writers' productivity.

Fair enough, I think. I shall wait for another one or two years for another mind explosions. I bet it's worth it.

And finally, this month I heard a news about her novel: Bilangan Fu. It must be the one she's been working all this time. The one about wall climbers.

So I ordered the novel from the internet. And there it is... The novel I've been waiting for some years... The mystical black cover, the smell of the papers, the weigh of hudreds-of-pages-book on my hand. A new writer's bible.

I've just read the first 60 pages, and this far it's still worth the waiting.
Ayu Utami is still the metaphorical maestro

ReviewReviewReviewReviewThe Handmaid's TaleJun 23, '08 3:44 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Margaret Atwood
I don't want to spoil anything, so I try my best to write this review without retelling the story.

First-half of the book is somewhat boring, but I do enjoy Atwood's imagination of how's the world would be like if women were man's property and had no rights to own money and get a job. It is a dystopian novel (To be more specific, it is somewhat a feminist-dystopian novel, which covers political and religius hypocrisy as well), sets near-future in a tyrannical country named Gilead. And as many other dystopian novels, hypocrisy is always the part of the society-in-power.

Then comes this last-half part of the book with all the suspenses and ironical symbolisms... I hardly ever put the book away from my sight for it is too intriguing to be left behind (reading the book becomes one of my priorities in my to-do-list these days) What unique about the book is, it mainly focuses on... oh, well, I can't spoil it... but I can tell you what I like best from the novel... it's the way Atwood describes the protagonist's feeling in details. The way the character sees things in the novel... it really takes my breath away several times and lets my mind review all those feminist theories_ only this time, in a very elegant way...

It's not a book that tells women to hate men... (the tone of the writing is very clever_ i found no "blaming-on-one-gender" tone) It's a book that tells people what it is like for women (and some men) when they had no access to financial independence, no rights to speak, and even no rights of the ownership of their own female body...

Pro-choice enthusiasts might find this book very interesting...
Pro-life enthusiasts might find this book as a useful input...
Feminists should read this book...
Anti-feminists MUST read this book...

(Fundamentalists... please read this book... heehee)


Blog EntrySudah lama Tidak Menulis PuisiMar 10, '08 1:17 PM
for everyone
Dan dia menyelinap sedikit dalam setiap sekujur yang sempit
Arwahku yang sudah lama kukira mati ternyata masih hidup
Sebagian kecil diriku yang sudah lama kubunuh ternyata masih memetik satu demi satu bayanganku
Sehingga hilang dia diamakan lautan api dan gemerlap hijau tumpukkan harta
Sekarang mulai aku merindukannya, ketika aku tidak lagi berpikir dia ada
Perlahan-lahan mengais
Perlahan-lahan mengintip dia dengan eratnya


Compact disc rusak, 11 Maret 2008


Blog EntryMemakan SenjaJan 11, '08 3:08 AM
for everyone
Dia berlari tanpa akhir, senja sedang mengejarnya. Senja ini tidak menusukkan cahaya yang panas, melainkan menyabik-nyabik kulitmu dengan dinginnya es yang menusuk. Lalu dia berlari ke lembah-lembah, gunung-gunung, sungai-sungai dan laut-laut. Bersembunyi di balik setiap gedung pencakar langit, pohon-pohon tertinggi, dan gerhana-gerhana yang lari ke sana kemari.

Kemanapun lelaki yang buta sebelah itu pergi, senja selalu mengejarnya. Senja selalu berada di Utara, dan kemanapun dia berlari, tetap ada di utara. Lelaki setengah buta itu berangan-angan seandainya saja dia bisa melenyapkan sang senja. Berharap senja tenggelam dan ia pun dapat diselamatkan bulan. Lelah lelaki setengah buta itu berlari dan hampir habis kulitnya tercabik-cabik dingin es.

Lelaki buta mendapatkan sebuah ide, mungkin kalau ia mengubur dirinya hidup-hidup, ia akan aman. Ia menyadari bahwa sedikit lagi matanya akan buta total. Pandangannya mulai kabur, menyisakan bias abu-abu di setiap warna-warni yang ia lihat. Ia tahu sebentar lagi ia hanya akan melihat gelap.

Lalu mulailah dia menggali kuburannya sendiri dengan tangan-tangan yang sudah berlumur darah dan tanpa kuku. Hari demi hari dia harus terus menggali. Dia harus bertahan hidup dari kejaran sang senja yang memang sudah lama mengincarnya untuk dijadikan santapan berikutnya. Sambil bersembunyi dari senja, dia terus menggali, sesekali bersembunyi lagi saat senja mengintip dari sela-sela dedaunan yang tinggi, di bukit bersetan merah itu.

Sedikit lagi ia tidak akan bisa melihat. hanya tinggal titik-titik warna yang bisa dibaca matanya. Senja pun sudah menemukan lelaki nyaris buta itu, dan mulai mencabik-cabik kulit punggung dan bokongnya. Tapi karena sedikit lagi lubang persembunyian itu cukup besar untuk menenggelamkan dirinya ke dalam tanah, maka rasaperih cabikkan-cabikkan itu ia abaikan.

Lalu lelaki itu membiarkan dirinya tenggelam dan terbenam di dalam lubang penuh cacing, ular, dan kalajengking. Membiarkan dirinya membusuk bersama tanah. Namun satu hal tertinggal di luar sana, yaitu bola matanya yang nyaris buta. Tubuh tetap menjadi tubuh yang busuk di balik tanah, tetapi mata masih bisa melihat walaupun sedikit. Ia bersembunyi di balik belantara visual yang diciptakan warna warni khayal dan mimpi, sisa-sisa apa yang ia pelajari dari wujud seorang manusia. Dan kala lapar, bola mata menjelma senja yang siap mencari mangsa, siapa saja, namun terutama yang buta. Mencabik-cabiknya dengan cahaya dingin yang perih. Melumpuhkannya pelan-pelan sampai lemah dan mengubur diri sendiri, dan memperbanyak senja-senja berikutnya... sampai tiba saatnya mereka saling memakan satu sama lain ketika tak ditemukan lagi laki-laki setengah buta yang sedang melarikan diri dari kejaran cahaya.

Aku temukan cabang-cabang yang tidak henti-hentinya bergerak, bersenandung, berlari-larian. Seperti matahari yang selalu terpaku pada senja dan manusia-manusia yang selalu terkekang dalam tangis. Dia bermain-main dalam segala warna yang bisa diciptakannya. dan aku kehilangan seni merangkai kata-kata dan lupa akan indahnya proses kreatif mencipta angan bagaikan tuhan. Aku terlalu sibuk memetakan kalian.

Lalu aku katakan dengan sangat menyesal, aku lelah membaca dan berpikir, hidup bersama arus sepetinya lebih indah. Tiada lagi robekkan-robekkan luka yang kubuat sendiri di tubuhku.

Lalu kau katakan dengan tersenyum, akankah kau merasa hidup bersama arus? tidakkah kau hanya akan menjadi sebongkah kayu yang tiada jelas akan berlabuh di mana?

Aku memang tersesat di tengah-tengah ketidak tahuanku. Mersembunyi di balik semak-semak yang pura-pura tidak tahu apa-apa, seperti aku. Maka demikianlah aku semakin tersesat, bersama dengan kalian-kalian yang mengukir nama di kehidupanku. Beberapa mengukirnya di tanganku, beberapa mengukirnya di mataku, beberapa mengukirnya di hatiku. Tapi kurasa, banyak yang tersesat ke liang vagina, terjerembab lalu bingung bagaimana caranya keluar dari lubang harum itu. Maka mereka pun mengukir namanya di sana ketika mengawang-awang bersama harum yang memabukkan.

Aku hanya ingin membuat sebuah peta di pikiranku, agar kelak aku dapat membaca kalian tanpa harus tersesat. kelak aku akan tahu di mana kalian bersarang di tubuhku.

Kemudian datanglah engkau seorang mayat berjalan. tatapanmu yang biru dan kulitmu yang menghijau bisa-bisanya memberiku kekaguman. Membuatku ingin menjadi mayat juga di taman-taman yang pernah dicita-citakan padaku sewaktu kecil. Saat Upik Abu masih menjadi Cinderella si putri bangsawan dengan bibir bergincu, dan Ibu Tiri masih seorang perawan pemalu.

Memuakkan, pemetaan-pemetaan yang malah akan menyesatkan.
Betapa aku rindu ketersesatan dalam belantara kesadaran... ketika aku masih bisa mendengar Descartes perlahan-lahan berbisik di telingaku yang naif: cogito ergo sum, Thera... Ditimpa dengan jeritan yang begitu mengerikan namun menyenangkan: Carpe Diem...
Karena bagiku momento mori terkadang seperti delusi...

Blog EntryDosa Sang JalangNov 27, '07 11:21 AM
for everyone



Maaf, maaf, sekali lagi maaf karena saya telah menelusup tepat ke kehidupan anda yang nyaman tentram dan tenang. Karena mata ini mata coklat si pecundang yang tidak pernah bisa diam kala terlihat pesona gelagat yang membakar hasrat. Sekali lagi maaf kalau saya bergulung-gulung bersama ombak kehidupan yang kalian ciptakan, mungkin saya hanya sekedar pencari perhatian, kenikmatan, dan tentunya_petualangan. Tokh saya tidak tahu,
sungguh tidak tahu, kenapa orang tua saya melahirkan saya, dan kenapa Tuhan merestuinya.


Dan saya sudah mengganggu perkawinan-perkawinan kalian. Maaf sungguh maaf, saya tak pernah bermaksud untuk merusak istana yang selama ini kalian bangun bersama. Bukan maksud saya kalau saya tidak tahan melihat orang lain berbahagia lalu kemudian usil dan merusaknya... sungguh, sama seperti kalian semua, saya hanya ingin sedikit saja mencicipi makanan penutup yang kalian namakan kebahagiaan itu.

Maaf, sungguh maaf kalau saja mulut ini berbicara dengan bahasa yang bernama dosa. Sungguh maaf bila otak ini terbuat dari bacin dan hangusnya telaga murka. Sungguh maaf saat kau temukan kelaminku penuh dengan kebusukkan sisa peninggalan-peninggalan kebodohan masa lalu, jalang-jalang itu telah mentato namanya di rahimku, dan aku tak tahu bagaimana cara membersihkannya. Bau busuknya itu sungguh aku tak tahan, dan maaf bila itu bukan yang kau inginkan.

Maaf, sungguh maaf atas garisan sejarah kehidupanku yang seperti demikian, hingga di mata kalian aku hadir sebagai bunda dari para jalang yang memperkosa ibunya.


Maaf, darahku telah mengotori kemurnian yang kalian pernah ciptakan.

Blog Entrybooks I've been longing to read...Nov 6, '07 10:54 AM
for everyone
These are the books that I've been longing to read for quite a while. I have purchased some of them but they remain sleeping in my bookshelf. Due to my time corruption in my own life... I can't manage the time to read  (err, I've been very very busy I don't even have time to read. REALLY!)

So here's the list...

1. George Orwell - 1984
people said it's a must read novel esspecially for those who're interested in dystopian literature. It's on my top priority since I've read lots and lots of academic research about Anthony Burgess' A Clockwork Orange saying that this Orwell's masterpiece has been the canon of dystopian novel and one of the best inter-textual source for those whoo analyze Burgess' A Clockwork Orange

2. Margaret Atwood - Handmaid's Tale
Arrrgghh... how come how come how come you haven't read this book, Thera!?!?! You've seen this book many times in Aksara's bookshelf and QB, right? How come you haven't even purchased it and added it to your so-called book-treasure-shelf??? No no no, the fact that you don't have time is not a virtuous excuse anymore. Oh, okay, so the book cost's is quite expensive then? You know you can afford it as long as you stay away from the bar and those online boutiques~! Put that strawberry margarita down!

3. Ursula Le Guin - The Left Hand of Darkness
Yes yes. I am very curious. As I searched "feminist science fiction" genre in wikipedia.com, I found this title. Ursula Le Guin is the alpha female writer in science fiction during her time, as the amazon.com reviewer describes: "The Left Hand of Darkness was a groundbreaking book in 1969, a time when, like the rest of the arts, science fiction was awakening to new dimensions in both society and literature". Not to mention, I am really curious about feminist science fiction genre. So the book's major themes covers philosophy and sexual identity about a hermaphroditic alien race; describing an alien culture as proposing a critical viewpoints to our own human culture. Yes, yes, I'll add it to my amazon.com shopping cart

4. Joanna Russ - The Female Man
Another dystopian feminist science fiction. Gee, I'm really into this... Maybe because I haven't find any particular research in my home country about utopian-dystopian literature / science fiction. Yes, there's no science fiction writer in Indonesia_ yet (If you can name one, please. I'm really hoping that I'm wrong). This book contains feminist ideology within utopian-satirical science fiction. As wikipedia tells me... "It used the device of parallel worlds as a form of a mediation of the ways that different societies might produce very different versions of the same person, and how all might interact and respond to sexism" (http://en.wikipedia.org/wiki/Joanna_Russ). Uuu..., I love parallelism! yes yes, parallelism really add some spices and hot chili peppers to our literature. We really have to learn a lot about parallelism, and I can't wait to learn from this book. Not forget to mention how satirical masterpieces really could blow me into an "literary orgasmic" dimension. Heehaw...

5. Aldous Huxley - Brave New World
You're such a pity, Thera. You're really into utopian/dystopian literature but you haven't read this book? tsk... tsk... Well, what can I say? It's such a pity... Err... yea... This is another "must read" for me... Really, I have nothing to say...


6. Milan Kundera - Unbearable Lightness of Being
Really, to be honest... I have no idea what this book is all about. But there're lots of friends (not just friends, but they're also excellent readers with numerous references. Quite inspiring) who recommended this book to me. They said, a person like me should read this book. Gee, okay... I trust you guys, I have no reason in delaying... I'll find it right away!


Yes.. I still have approximately 15-20 books on my list...

Now you know what I want for christmas! Theehee...

Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Begum Rokheya Sakhwat Hossain
"Why do you allow yourselves to be shut up?"
"Because it cannot be helped as they as stronger than women"
"A lion is stronger than a man, but it does not enable him to dominate the human race. You have neglected the duty you owe to yourselves and you have lost your natural rights by shutting your eyes to your own interests."
(Sultana's Dream -Begum Rokheya Sakhwat Hossain)


Saya menemukan cerpen Sultana's Dream ketika saya sedang iseng menambah pengetahuan dalam genre science fiction literature di wikipedia. Tiba-tiba saya tertarik untuk mempelajari beberapa term kontemporer yang sebelumnya sangat asing di telinga saya tapi satu hal yang menurut saya paling unik: feminist science fiction. Pendekatan feminis dalam sastra bukan lagi hal yang asing bagi saya, tapi feminist science fiction? Genre sci-fi dengan muatan feminis? Apa pula ini?

Lalu saya mulai addict mempelajari lebih banyak tentang muatan feminis dalam genre literatur yang didominasi kaum pria ini. Sejumlah judul saya catat untuk sewaktu-waktu saya cari. Saya akhirnya tiba pada nama Begum Rokheya Sakhwat Hossain (sumpah namanya susah bgt!) dan cerita pendeknya yang paling terkenal "Sultana's Dream". ternyata tidak sulit mendapatkan cerpen ini, saya bisa bebas mengcopy-paste nya dari situs yang tertera dibawah setelah melobi google.

Sulthana's Dream bercerita tentang seorang perempuan bernama Sulthana yang tiba-tiba bermimpi ke suatu negara yang dipimpin oleh seorang ratu yang sangat bijaksana. Semua elemen dalam ruang publik dipimpin oleh perempuan, sementara laki-laki terpatas pada ruang domestik. Hal ini membuat Sultana terkejut karena sangat berbeda dengan kultur India tempat ia tinggal dimana hanya laki-laki yang boleh sekolah, bekerja, dan menguasai dunia politik, sementara perempuan dilarang keras keluar rumah kecuali ditemani ayah atau kakak laki-laki.

Memang mengerikan, membacanya seolah melihat budaya patriarkhis ekstrim yang sangat terbalik yang dilakukan oleh perempuan, hanya saja memiliki pembenaran-pembenaran dari sudut pandang perempuan. Meskipun karya ini secara jelas adalah sebuah karya feminis, namun stereotyping dan binary opposition antara perempuan dan laki-laki justru diperkuat secara jelas. menurut saya, karya ini pantas disebut "utopian speculative feminist science fiction" (mampus gak luh!?)

Mari, saya jabarkan satu-satu....

Utopia adalah konsep dimana kehidupan manusia berada pada tingkat paling sempurna di segala sektor. Damai, aman, tentram, gak ada perang, gak ada polusi, gak ada populasi berlebih, gak ada kemiskinan, dan gak ada masalah! Utopia (dan distopia, antitesis atau kebalikan dari utopia) juga merupakan suatu konsep yang sering ditemui dalam sastra.

Speculative science fiction adalah salah satu sub-genre dari science fiction dimana proses kreatif sebuah cerita diawali dari usaha menjawab pertanyaan "What if..." Dalam kasus cerpen ini, Hossain berangkat dari usaha menjawab pertanyaan "What if the word is ruled by women?" atau dalam konteks budaya patriarki India pada masa penulisan cerpen ini bisa juga "What if women do what men did to women?"

Lalu, kenapa feminist science fiction? Karena dalam Sultana's Dream terdapat elemen-elemen feminisme dan elemen-elemen dalam genre sci-fi, yaitu adanya gambaran kehidupan masyarakat yang terpengaruhi oleh kemajuan teknologi.

Ohya, ada satu lagi yang hampir ketinggalan, ecofeminism! ecofeminism adalah ideologi feminis yang berhubungan dengan lingkungan dimana seringkali eksistensi perempuan berhubungan erat dengan alam. Cerita pendek ini juga menunjukkan hal itu karena setting 'dunia mimpi' Sultana adalah tempat yang sangat asri dan hijau. Hal ini dikarenakan kemajuan teknologi yang diciptakan kaum perempuan di negara itu tetap ramah lingkungan.

Hhhh! Edan!

Cerita pendek ini memang pendek (namanya juga cerita pendek) namun kaya akan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah saya temui atau dengar. Memang kelemahan cerpen ini adalah memposisikan ideologi feminis pada titik yang cukup ekstrim dan cukup mengerikan bagi orang awam, tapi hal ini seharusnya tidak menjadi masalah karena selalu kembali pada interpretasi masing-masing pembacanya.

Perlu diingat bahwa cerpen ini ditulis Hossain pada tahun 1905, dimana budaya patriarki di India sedang pada puncak-puncaknya. Atas alasan ini saya memaafkan Hossain karena telah membuat feminisme jadi terdengar menakutkan, pasti Hossain melakukannya karena alasan yang kuat; apa yang dia alami pada saat itu juga menakutkan. Terlepas dari hal ini, Sultana's Dream adalah sebuah cerpen yang begitu menarik, terutama atas kekayaan elemen yang dimilikinya. Sedih rasanya ketika saya sampai pada akhir cerita, dimana Sultana, klise memang, terbangun dari mimpinya dan kembali pada dunia aslinya yang partriarkhis (maaf saya jadi spoiler...)

Nilai: 8 (skala 1-10)


Untuk membaca cerpen Sultana's Dream silahkan ke situs:

http://home.earthlink.net/~twoeyesmagazine/issue2/sultana.htm


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help