Thera's posts with tag: movie review

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag movie review
ReviewReviewFITNAApr 3, '08 10:21 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Documentary
Sinting sebagai sebuah dokementer. Sangat provokatif dan mengerikan. Seandainya saja dokumenter ini dibuat tanpa tujuan propaganda apapun (atau setidaknya, jangan samapai propaganda nya ketahuan), pasti hasilnya jauh lebih baik.

Saya suka gore part dari menit pertama sampai menit ke delapan_ saya percaya itulah realita menyedihkan yang ada di dunia: bahwa memang ada sebagian orang yang hidup dalam pemikiran sempit yang mengerikan. Walaupun saya non-muslim, tapi saya percaya Islam "yang benar" tidak seperti itu. Saya benci pesan yang ditampilkan di akhir film yang membuka topeng propaganda sang sutradara dengan bodohnya. Yang tentu saja, menunjukkan bahwa si pembuat film sama bodohnya dengan para militan kejam yang digambarkan dalam film. Mereka sama-sama melakukan generalisasi tolol ketika melihat perbedaan.

Tapi ya sudah, lah. Bagi teman-teman yang memeluk agama Islam, saya sarankan bersikap cerdas dalam melihat fenomena ini: jangan percaya fitnah, lebih baik percaya apa kata Lennon: "Imagine all the people, living life in peace..."

*ahem, pass me the joints please...*

ReviewReviewReviewReviewReviewMonty Phyton's The Meaning of Life (1983)Jan 4, '08 9:49 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Udah lama gue nggak menikmati pencerahan dari sebuah karya sejak baca Sophie's World nya Jostein Gardner. dan itu kurang lebih udah 4 thn yg lalu. Tiba-tiba HBO Signature menayangkan film ini. Judulnya bikin gue tertarik, karena berani-beraninya pake frase "The meaning of Life" dalam sebuah film... gue pikir, pede bener sok sok ngasi tau the meaning of life sama orang-orang... what the hell? Gue merasa tertantang, jadilah gue memonopoli indovision di rumah buat nonton film ini (Bokap waktu itu lg mo nonton bola)

Well, jujur gue bingung harus mulai cerita dari mana. Pada dasarnya film ini nggak punya plot yang jelas. Seperti sketsa-sketsa di Extravaganza, tapi bedanya somehow sketsa-sketsa ini bisa nyantol satu sama lain. Dan yang membedakan lagi dengan Extravaganza, film ini mempunyai selera komedi yang jauuuh jauuuh lebih dark, satir, dan philosophical.

Pertanyaan "What is the meaning of life?" yang gue yakin jadi pertanyaan dasar setiap manusia dijadikan arena berkomedi yang *anjrit* konyol dan menjijikan. Tapi di balik hal-hal yang konyol serta menjijikan itu, selalu ada sesuatu yang tersirat sebagai pelajaran filosofis yang mau disampaikan dengan cara ngebanyol. Beda dengan Dunia Sophie yang menampar kita dengan rangkaian kata-kata serius, apapun yang ada di film ini ditamparkan ke gue lewat banyolan yang lebih banyak tentang manusia-manusia, misalnya kebodohan sikap manusia dalam peperangan, bagaimana manusia rakus meledakkan diri sendiri, manusia-manusia yang tidak sadar kalau Grim the Reaper sedang bertamu, dan lain-lain. Lewat film ini, gue kaget bagaimana filsafat eksistensialisme menjadi bahan tertawaan dengan cara yang begitu cerdas.

Gue menikmati setiap sountracknya. Iramanya selalu riang walaupun yang sedang dicaritakan betapa kecil dan tidak berartinya kita manusia di jagad raya ini. Seperti mendengar lagu dari film Mary Poppins, tetapi sembari menonton film gothic Frankenstin. Hmmm, mengingatkan gue pada Clockwork Orange dan lagu-lagunya. Perpaduan lagu-lagu ria jenaka dengan tema yang absurd kurang lebih ngasih gue tamparan-tamparan simulacrum berkali-kali dari komedi satir masterpiece itu.

Okay, sekarang tentang para pemain. Gaya berlakon para pemain mirip sekali dengan gaya orang berteater, semuanya serba kuat, vokal, karakter, mimik, gesture, dll… Gue kira Monty Phyton itu sutradara yang berasal dari dunia teater, tp ternyata… mereka adalah kelompok komedi legendaries dari Inggris (Bagi para penggemar Monty Phyton, harap maklum, gue gak banyak tau soal dunia komedi) Mungkin seperti Extravaganza di Indonesia… bedanya, menurut wikipedia, Monty Phyton melakukan revolusi komedi yang besar di Inggris dan dunia, mungkin karena tema-tema satir dan gaya komedi bersketsanya. By the way kecebur busway, kata “spam” yang sering kita pake dalam dunia maya ternyata berasal dari para comedian Monty Phyton… hoo…

Gue yakin lebih banyak orang yg gak suka film ini dari pada yg suka (terbukti dengan semua anggota keluarga gue, kecuali gue, yang ngomel-ngomel saat nonton film ini, lalu masuk ke kamarnya masing-masing) Tapi perlu dicatat bahwa gue penikmat dark comedy atau satir, dan khusus untuk film ini, nihilisme yang sinis bisa gue nikmati (biasanya gue gak begitu suka karya-karya berbau nihilis) Gue nggak mau cerita endingnya, bukan karena gue nggak mau ngasih spoiler, tapi karena gue gak mau lo terlalu banyak berharap sama film ini. Nonton aja sendiri dan temuin “The Meaning of Life” nya yang… errr… multinterpretasi. *Sigh*

Maafin gue kalo ternyata elo, sama seperti keluarga gue yg lain, gak bisa menikmati film ini, mematikannya di 15 menit pertama dan masuk ke kamar lalu ngomel-ngomel karena gue ngasih 5 bintang di review gue… I guess I’m just a freak who loves an ugly comedy…
Eh, tapi kalo lo bisa menikmati Dunia Sophie dan karya-karya Nietzsche, Schopenhauer, Dostoyevsky, Sartre, dll… dll… lo mungkin akan suka film ini. Hehe…

Nih, gue kasih sedikit kata yang ada di cover DVD nya sebagai teaser:
"It took God six days to create the Heavens and the Earth … and Monty Python 1 hour and 48 minutes to screw it up!"


ReviewReviewReviewReviewMarie Antoinette (2006): Revolusi Karya KlasikMar 27, '07 7:41 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Suatu hari di sebuah pelatihan sinema di fakultas ilmu budaya di universitas negri paling bergengsi di Depok, seorang dosen bergelar master dalam bidang susastra yang menjadi pembicara berkata "tidak termaafkan ketika dalam film bersetting abad 18 tapi terdapat jam tangan modern". Lalu pikiran saya beralih pada film yang disutradarai oleh Sophia Coppolla ini. "Bukankah semua itu bila dilakukan dengan sengaja oleh sutradara pasti sang sutradara ingin menunjukkan hal tertentu? Bukankah pasti ada makna yang ingin disampaikan?" sanggah saya kepada dosen dari jurusan perancis tersebut. Cukup mengagetkan bagi forum diskusi, karena saya satu-satunya mahasiswa S1 yang mengikuti pelatihan (Yang lain minimal mahasiswa S2 dan dosen-dosen dari universitas lain) dan akhirnya mengajukan pertanyaan kritis pertama dalam forum (Sebelumnya pertanyaan-pertanyaan yang muncul hanya sebatas teknis 'membaca' sebuah film. Huh bosan! You can get it simply by reading cinematrography and film studies book) lalu saya memberikan contoh film ini untuk mendukung argumen "Dalam Marie Antoinette yang bersetting pra revolusi Perancis, musik pengiring yang digunakan Coppola adalah musik pop alternatif masa kini. Tulisan di posternya saja sudah memakai font nyentrik, dan bila jeli, anda bisa menemukan sebuah sepatu sneakers berada di sela-sela sepatu-sepatu vintage pada masa itu. Malah kalau saya tidak salah, rasanya saya melihat handphone. memang sih, hanya satu atau dua detik disorot kamera. Tapi saya yakin itu bukan karena kelalaian sutradara, tetapi karena apa yang ingin ditekankan oleh sutradara adalah bahwa sesungguhnya Marie Antoinette masih ABG yang spirit hidupnya sama seperti ABG masa kini. Hal yang sama juga terjadi pada film Iron Jawed Angels yang saya lupa sutradaranya siapa." Dosen tersebut membenarkan saya, dan menambahkan "Ya, kesengajaan-kesengajaan tersebut juga menekankan bahwa film Marie Antoinette , meskipun berdasarkan tokoh sejarah, tetap sebuah karya fiksi". Sepertinya sedikit berlawanan dengan pernyataan dia sebelumnya, bukan? Saya hanya memaklumi, jurusan Perancis memang terkenal sangat setia dengan isu-isu konservatif dalam sastra, berbeda dengan jurusan Inggris yang akrab bergumul dengan postmodernisme dan isu-isu kontemporer sastra.

Kejeniusan Copolla dalam setiap karyanya adalah bagaimana ia menyembunyikan adegan-adegan penting dan menyajikan adegan-adegan yang tidak penting. Ingat Lost in Translation? Menontonnya membuat anda terus bertanya-tanya tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada diri tokoh utama dalam kesendiriannya di sebuah negara asing. Tidak ada voice over narration yang benar-benar mantap mengungkapkan isi hati mereka, yang ada hanyalah gambaran-gambaran suasana. Lewat Marie Antoinette juga, Copolla memaksimalkan kekuatan visual dan simbolisasi untuk menyampaikan makna pada 'pembaca' film.

Copolla juga berhasil meruntuhkan pakem-pakem yang berlaku dalam membuat sebuah film berdasarkan sejarah atau bersetting klasik (yang serta merta sering disebut film sejarah atau klasik). Tidak sering kita melihat pewarnaan film yang "kinclong" di film-film bersetting klasik, biasanya film (bersetting) klasik bermain-main dengan warna-warna redup dan nyaris sephia untuk membangun nuansa vintage lewat pewarnaan. Sama seperti pilihan musik yang "nyentrik", Copolla juga nekad bermain-main dengan editing yang relatif 'cepat' untuk film drama. Menontonnya mengingatkan saya pada film-film chick-flick yang dibintangi Reese Witherspoon. Mungkin memang itulah yang sengaja ingin ditampilkan oleh Copolla, semangat ABG dalam diri seorang tokoh dalam sejarah Marie Antoinette, sekedar mengingatkan bahwa dosa-dosa yang dilakukan Marie Antoinette semata-mata karena karakter naif yang selayaknya dimiliki seorang anak ABG.

Jangan harap anda bisa menemukan informasi-informasi yang anda inginkan tentang revolusi Perancis lewat film ini. Tidak ada adegan keluarga kerajaan dieksekusi, yang ada adalah permasalahan Marie Antoinette berusaha adaptasi dengan rumah barunya, pergaulan sosialnya di istana Versailles, dan masalah ranjang antara Marie Antoinette dan Henry VI. Jangan dulu kecewa dan melabeli karya ini sebagai film sejarah yang gagal. Karena, bila anda mencari fakta sejarah lebih baik anda ke perpustakaan dan membaca buku-buku tentang revolusi perancis. Bila anda ingin melihat sebuah karya tentang permasalahan psikologis seorang anak ABG yang harus memenuhi kewajibannya sebagai ratu, silahkan mencari DVD ini (theramehta)

Nilai: 8 (Skala 1-10)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help