Thera's posts with tag: muntah kata
 | ? | Jul 14, '08 10:28 AM for everyone |
Di antara sepi aku ada Di antara perih aku sirna
Kalau boleh kuucapkan sepatah kata Di sudut ini dia mematung Di antara mendung aku merenung
Ada dirimu yang kupenjara Terkurung dan tak ingin kulepas Kubiarkan kau menderita Tersesat dalam ruang sempit dan gelap Dimana harapan dan impianku kukubur bersama mayat-mayat busuk Kukunci kau di ruangan itu hidup-hidup Membiarkan kau membara dalam kebencian Karena kekebasanmu kuredam Lalu aku menyesal dan membuka penjara itu Membiarkan kau lepas tanpa merasa bebas Karena tersungkur aku dikakimu, menangis, memohon pengampunan dan kasih sayang Meski egois aku, tak ingin biarkan kau pergi dari hatiku Yang sudah berbau busuk dan berwarna kelam, terasa perih dan pahit
Bekasi, 14 Juli 2008 **sebuah mimpi setelah malam panjang yang melelahkan
we are lost we are nothing we are dreadful piece of junk in the valley of diamond we are a chunk of rotten flesh, not even appealing for a dirty slum dog we are drowned in a substance of love, the love no one has ever given but ourselves we are lost we are nothing just a little drop of salty tear in the myriad lucid dreams in a desert storm we are lost we are nothing not even worthed to think and exist like the beast in a mysty chimerical delussion
... do all these sacrifice worthed? ...is my quality life time wasted just like that?
Opportunities come, but I'm not sure when to really be part of it And I'm drowned! It's tomorrow! It's next week! It's during this month!
but I am all loaded! I'm tired!
God please help I got these nervous breakdown symptoms and the comeback of my bygone border-personality mood
I'm tired... and thinking... and tired of thinking of it...
Sebagai seorang perempuan labil yang merasa memiliki banyak energi, kesempatan apapun sabet aja... Bukan untuk uang sih tp lebih untuk pengalaman belajar (dan uang juga, hehehe) Akhirnya, badan rontok... otak rontok... waktu rontok... Rasanya dalam seminggu ada 7 hari tuh masih kurang. Idealnya mungkin seminggu 10 hari. 6 hari kerja, 4 hari weekend, ehhehe
Tapi kenyataannya sekarang, semuanya serba menyusahkan... Tapi si bodoh yang suka asal ngambil keputusan demi menaikan nama diri sendiri tanpa pikir panjang ini masih berusaha bertahan. Bertahan menghadapi mahasiswa gadungan yang makin hari makin kurangajar dan deadline dan deskjob yang tidak manusiawi....
Lalu pekerjaan senang2 datang... yang tiba2 memberi pe-er 'ngulik' lagu2 susah (panitia bodooooh, udah gak sanggup bayar banyak maunya pulaaa....)
Oh, toloooonggg.... Satu-satunya hiburan sesaat: GAJIAAANNN!!!!
IDIOTNESS NUMBER ONE
The Jakarta Post, Monday, January 28, 2008 :
Govt declares seven days of national mourning
"President Yudhoyono last declared a three-day national mourning period on Dec. 27-29 in 2004 for the thousands of people in Aceh and Nias who were killed in the indian Ocean tsunami on Dec. 26. President Megawati Soekarnoputri announced one day of national mourning on Nov. 15, 2002, after 202 people, mostly foreign tourists, were killed in terrorist bombings on Bali on Oct. 12."
In my naive yet honest conclusion, the government honored Soeharto more than those thousands of people who were killed by the tsunami and terrorist bombings.FOR GOD'S SAKE!!! SEVEN DAYS??? HE'S JUST A PERSON WHO DEVELOPED THIS COUNTRY AND THEN DESTRUCTED IT!!! IS HE'S REALLY THAT BIG COMPARED TO THOSE THOUSAND OF INNOCENT PEOPLE DIED ON THE TSUNAMI AND BOMBINGS?
IDIOTNESS NUMBER TWO
Jam 12 malam kurang lima menit gue iseng nyalain TV dan yang pertama tampak adalah TPI yang sedang menyiarkan pengajian2 untuk mendoakan Soeharto. Seorang ibu-ibu yang diwawancara berkata sambil tersipu "Wah sedih sekali yah kita kehilangan presiden yang sebaik itu. Ya... walaupun presiden kan pasti punya kekurangan dan kelebihan juga, namanya juga manusia. jadi kita maklumi dan maafkan saya kekurangannya..." (Saking 'cengo' dan kagetnya gue mendengar itu, gue sampe hafal dan sanggup mengutipnya di sini. Sementara si Ibu, senyam senyum seolah karena bangga masuk tipi... lhaaa, katanya berduka???)
MAKLUMI??? ARE YOU KIDDING ME, LADY???
okay, two idiotness for today. And I'm looking forward for more tomorrow...
saya berharap dia hidup lebih lama lagi, agar keadilan secara hukum di dunia dapat ditegakkan. keadilan di akhirat? ah... kalian ini bisa saja... lalu media membuat saya muak dengan kilas baliknya pada masa-masa penuh represi itu dimana siapa saja yang berani bicara menghilang satu persatu kecerdasan dibungkam dan digantikan dengan susunan-susunan pemikiran atifisial penuh tendensi menjijikan dan dia menjadi tampak seperti pahlawan. boleh lah, pahlawan untuk sebagian orang yang kecipratan kenikmatan kuasanya, tapi tentu tidak untuk saya
apakah saya berbelasungkawa? tentu. bukan untuk "sang ayah", tapi untuk kecerdasan bangsa dan keadilan. ha ha. semoga apa yang mereka sebut dengan keadilan di akhirat itu benar adanya...
 Dia berlari tanpa akhir, senja sedang mengejarnya. Senja ini tidak menusukkan cahaya yang panas, melainkan menyabik-nyabik kulitmu dengan dinginnya es yang menusuk. Lalu dia berlari ke lembah-lembah, gunung-gunung, sungai-sungai dan laut-laut. Bersembunyi di balik setiap gedung pencakar langit, pohon-pohon tertinggi, dan gerhana-gerhana yang lari ke sana kemari. Kemanapun lelaki yang buta sebelah itu pergi, senja selalu mengejarnya. Senja selalu berada di Utara, dan kemanapun dia berlari, tetap ada di utara. Lelaki setengah buta itu berangan-angan seandainya saja dia bisa melenyapkan sang senja. Berharap senja tenggelam dan ia pun dapat diselamatkan bulan. Lelah lelaki setengah buta itu berlari dan hampir habis kulitnya tercabik-cabik dingin es. Lelaki buta mendapatkan sebuah ide, mungkin kalau ia mengubur dirinya hidup-hidup, ia akan aman. Ia menyadari bahwa sedikit lagi matanya akan buta total. Pandangannya mulai kabur, menyisakan bias abu-abu di setiap warna-warni yang ia lihat. Ia tahu sebentar lagi ia hanya akan melihat gelap. Lalu mulailah dia menggali kuburannya sendiri dengan tangan-tangan yang sudah berlumur darah dan tanpa kuku. Hari demi hari dia harus terus menggali. Dia harus bertahan hidup dari kejaran sang senja yang memang sudah lama mengincarnya untuk dijadikan santapan berikutnya. Sambil bersembunyi dari senja, dia terus menggali, sesekali bersembunyi lagi saat senja mengintip dari sela-sela dedaunan yang tinggi, di bukit bersetan merah itu. Sedikit lagi ia tidak akan bisa melihat. hanya tinggal titik-titik warna yang bisa dibaca matanya. Senja pun sudah menemukan lelaki nyaris buta itu, dan mulai mencabik-cabik kulit punggung dan bokongnya. Tapi karena sedikit lagi lubang persembunyian itu cukup besar untuk menenggelamkan dirinya ke dalam tanah, maka rasaperih cabikkan-cabikkan itu ia abaikan. Lalu lelaki itu membiarkan dirinya tenggelam dan terbenam di dalam lubang penuh cacing, ular, dan kalajengking. Membiarkan dirinya membusuk bersama tanah. Namun satu hal tertinggal di luar sana, yaitu bola matanya yang nyaris buta. Tubuh tetap menjadi tubuh yang busuk di balik tanah, tetapi mata masih bisa melihat walaupun sedikit. Ia bersembunyi di balik belantara visual yang diciptakan warna warni khayal dan mimpi, sisa-sisa apa yang ia pelajari dari wujud seorang manusia. Dan kala lapar, bola mata menjelma senja yang siap mencari mangsa, siapa saja, namun terutama yang buta. Mencabik-cabiknya dengan cahaya dingin yang perih. Melumpuhkannya pelan-pelan sampai lemah dan mengubur diri sendiri, dan memperbanyak senja-senja berikutnya... sampai tiba saatnya mereka saling memakan satu sama lain ketika tak ditemukan lagi laki-laki setengah buta yang sedang melarikan diri dari kejaran cahaya.
Aku temukan cabang-cabang yang tidak henti-hentinya bergerak, bersenandung, berlari-larian. Seperti matahari yang selalu terpaku pada senja dan manusia-manusia yang selalu terkekang dalam tangis. Dia bermain-main dalam segala warna yang bisa diciptakannya. dan aku kehilangan seni merangkai kata-kata dan lupa akan indahnya proses kreatif mencipta angan bagaikan tuhan. Aku terlalu sibuk memetakan kalian.
Lalu aku katakan dengan sangat menyesal, aku lelah membaca dan berpikir, hidup bersama arus sepetinya lebih indah. Tiada lagi robekkan-robekkan luka yang kubuat sendiri di tubuhku.
Lalu kau katakan dengan tersenyum, akankah kau merasa hidup bersama arus? tidakkah kau hanya akan menjadi sebongkah kayu yang tiada jelas akan berlabuh di mana?
Aku memang tersesat di tengah-tengah ketidak tahuanku. Mersembunyi di balik semak-semak yang pura-pura tidak tahu apa-apa, seperti aku. Maka demikianlah aku semakin tersesat, bersama dengan kalian-kalian yang mengukir nama di kehidupanku. Beberapa mengukirnya di tanganku, beberapa mengukirnya di mataku, beberapa mengukirnya di hatiku. Tapi kurasa, banyak yang tersesat ke liang vagina, terjerembab lalu bingung bagaimana caranya keluar dari lubang harum itu. Maka mereka pun mengukir namanya di sana ketika mengawang-awang bersama harum yang memabukkan.
Aku hanya ingin membuat sebuah peta di pikiranku, agar kelak aku dapat membaca kalian tanpa harus tersesat. kelak aku akan tahu di mana kalian bersarang di tubuhku.
Kemudian datanglah engkau seorang mayat berjalan. tatapanmu yang biru dan kulitmu yang menghijau bisa-bisanya memberiku kekaguman. Membuatku ingin menjadi mayat juga di taman-taman yang pernah dicita-citakan padaku sewaktu kecil. Saat Upik Abu masih menjadi Cinderella si putri bangsawan dengan bibir bergincu, dan Ibu Tiri masih seorang perawan pemalu.
Memuakkan, pemetaan-pemetaan yang malah akan menyesatkan. Betapa aku rindu ketersesatan dalam belantara kesadaran... ketika aku masih bisa mendengar Descartes perlahan-lahan berbisik di telingaku yang naif: cogito ergo sum, Thera... Ditimpa dengan jeritan yang begitu mengerikan namun menyenangkan: Carpe Diem... Karena bagiku momento mori terkadang seperti delusi...
 | Kesel!!! | Jan 8, '08 12:45 AM for everyone |
Klien brengsek! Kapitalis monyet! Bener2 gak bisa bedain mana yang bener2 bermutu mana yang cuma untuk publisitas doang! Kampret! Lo kira gue ngusahain semua itu nggak pake keringet?
Sok2nya lo bilang membangun kota sementara lo sebenernya hanya meraup uang dari 1persen jumlah penduduk yang hanya peduli diri sendiri dari pada orang lain. Lalu bersembunyi dibalik topeng amal dan sedekah untuk kaum miskin. Taik!
Hah. Kita semakin dekat dengan kesenjangan sosial yang semakin lama semakin senjaaaaanng!!! ggrrrrrr.....
Makan tuh sofa yang harganya bisa ngebiayain kuliah S2 gue!!! Makan tuh Ferrari, Mersi, BMW sport yang harganya selangit tapi buat lo dipake hanya buat cebok dan meper ingus doang!!!
You were there. I knew it. I felt it. You were there. Inside me. You lived within me. You were there. In progress of creating. In process of being. You were there. Soulless. Bodiless. Nameless. Unnoticed. But I don't care. Deep inside, I believe you were there.
If my womb was too ferocious, at least, you were there alive in my imagination
 | Ha.Ha. | Dec 11, '07 12:10 PM for everyone |
Kau lucu sekali... Kau sangka semudah itukah aku? Nyatanya semua pikiran yang diciptakan manusia adalah indah kala kulihat dengan kaca mata yang aku kenakan Aku percaya kaca mata ini dapat mengukir kedamaian Ah, seandainya saja semua orang seperti aku Berakhirlah semua perdebatan-perdebatan omong kosong Seperti botol wine kosong bertabrakan dengan tong
Bunyinya mengagetkanku, menyadarkanku bahwa ternyata aku berdiri cukup tegak Ternyata gubug derita yang kubangun berdiri cukup kokoh
Sudah berapa langkah lagi aku tertinggal? Sementara hasratku telah tersoak-soak tertinggal di belakang. Ah bodohnya bodoh yang paling bodoh ketika kau lupa akan kekuatan sendiri. Sehingga perlahan ia tersapu olah penjara pikiran dan mulai kehilangan kegilaannya...
Dan panas hati, sedih pikiran, jatuh mental kala aku melihat rival-rival telah bersalin karya-karyanya lagi dan lagi. Aku masih tertinggal di titik nol.
Aku terperrangkap, ditakut-takuti oleh ketakutanku yang paling besar. Adalah menjadi bukan siapa-siapa di tengah tengah gemulai makhluk-makhluk indah. Sementara mantera-mantera kata betebaran di mana-mana, tak satupun aku tangkap dan kusimpan di pagina-pagina elektronik ini. Bodoh ini bodohnya siapa?
Aku butuh kamus. Aku butuh kartu anggota perpustakaanku yang mereka rampas dengan paksa ketika aku lulus. Aku butuh laptop baru yang bisa melekat pada jari-jemariku. Aku butuh lebih banyak membaca dan belajar lagi. Aku butuh mengenal diriku sendiri, lebih lekat lagi!

Maaf, maaf, sekali lagi maaf karena saya telah menelusup tepat ke kehidupan anda yang nyaman tentram dan tenang. Karena mata ini mata coklat si pecundang yang tidak pernah bisa diam kala terlihat pesona gelagat yang membakar hasrat. Sekali lagi maaf kalau saya bergulung-gulung bersama ombak kehidupan yang kalian ciptakan, mungkin saya hanya sekedar pencari perhatian, kenikmatan, dan tentunya_petualangan. Tokh saya tidak tahu, sungguh tidak tahu, kenapa orang tua saya melahirkan saya, dan kenapa Tuhan merestuinya.
Dan saya sudah mengganggu perkawinan-perkawinan kalian. Maaf sungguh maaf, saya tak pernah bermaksud untuk merusak istana yang selama ini kalian bangun bersama. Bukan maksud saya kalau saya tidak tahan melihat orang lain berbahagia lalu kemudian usil dan merusaknya... sungguh, sama seperti kalian semua, saya hanya ingin sedikit saja mencicipi makanan penutup yang kalian namakan kebahagiaan itu. Maaf, sungguh maaf kalau saja mulut ini berbicara dengan bahasa yang bernama dosa. Sungguh maaf bila otak ini terbuat dari bacin dan hangusnya telaga murka. Sungguh maaf saat kau temukan kelaminku penuh dengan kebusukkan sisa peninggalan-peninggalan kebodohan masa lalu, jalang-jalang itu telah mentato namanya di rahimku, dan aku tak tahu bagaimana cara membersihkannya. Bau busuknya itu sungguh aku tak tahan, dan maaf bila itu bukan yang kau inginkan. Maaf, sungguh maaf atas garisan sejarah kehidupanku yang seperti demikian, hingga di mata kalian aku hadir sebagai bunda dari para jalang yang memperkosa ibunya.
Maaf, darahku telah mengotori kemurnian yang kalian pernah ciptakan.
I hate this constructed society I live in. But what can I do about it? I just have to live in it In this dull shallow-minded constructed world... And then, carpe diem becomes just a meaningless axiom
 | Liarkan! | Nov 20, '07 11:37 PM for everyone |
Ini bukan masalah kebenaran. Hanya kesudian sebuah pikiran yang diijinkan tuannya _yang tak lain dan tak bukan adalah tubuh_ untuk mengelana dan bertualang diluar jeruji-jeruji moralitas yang menjadi super ego manusia. Ini bukan sekedar permasalahan mana yang benar dan mana yang salah, karena benar salah hanyalah sebuah delusi yang datang dari kesepakatan banyak manusia yang tidak sengaja terperangkap dalam sebuah tempat.
Kasihan aku pada pikiran-pikiran yang ruang geraknya dibatasi hanya sampai pada titik-titik tertentu. Aku bisa merasa tangisannya yang tak terdengar. Walau mereka hanyalah sosok tak kasat mata yang menyampur bersama keabstrakan maya, aku tahu mereka mendamba kebebasan.
Lalu aku dan pikiranku yang kubiarkan mengelana kemanapun dia mau hanya bisa diam dan prihatin, sesekali menangisi, atau mentertawai. Mentertawai mereka-mereka yang mengaku seniman tapi sesungguhnya sales. Mereka yang sok-sok sales tapi sebenarnya seniman. Mentertawai mereka yang merasa benar dan menganggap ini itu salah. Sementara benar dan salah kabur adanya.Mentertawai tukang jamu yang jualan racun. Mentertawai peracun yang minum jamu. Mentertawai maling yang teriak maling, kucing yang makan anjing, anjing yang dikunyah kucing, lalu sudah mati jadi makanan cacing. Mentertawai orang-orang bunuh diri tapi malah panjang umur. Mentertawai orang-orang panjang umur yang dimakan ikan hiu. Dan seperti biasanya, ikan hiu kalau mati ya jadi makanan cacing lagi, kan?
Sabarlah sesaat lagi, tidak lama lagi kegilaan dan monotonitas ini akan berakhir seiring terbebaskannya pikiran-pikiran paling liar di dunia, sehingga tak ada lagi mereka yang memandang esensi-esensi kejeniusan pikiran manusia dengan sebelah mata. Sang pencipta tinggal dan hidup di tiap percikan kebebasan pikiran yang ada.
castle in the air daydreaming wishful thinking delusion fool's paradise mirage phantasm pipe's dream mind trip caprice flight of fancy facon de parler tablets of the memory
welcome enlightenment!
...aku juga sibuk
.
.
.
.
.
*hiks*
 | bisu | Oct 1, '07 12:54 PM for everyone |
aku tahu kau mengintipku di balik tirai itu. seperti serigala bertaring mengendus bongkahan daging mentah. apa yang kau lihat adalah apa yang akan kau dapat. dan sedikitpun kau tidak menyentuh jeruji yang membingkai manis tubuhku. bermimpilah dan beranak-pinaklah wahai cakaran-cakaran... aku yakin kau pasti tertampar sedikit dari maksud perempuan bisu ini
Buih buih letupan itu kian menggangu. Memang harus yah kau sisakan sedikin percikan itu untukku? Aku nyaman dengan ini, dan tidak ingin gangguan lagi. Biarkan saja mereka bertukar cairan dengan leluasa, tokh itu bukan urusan siapa siapa. Di sini aku menyaksikan dan tersenyum, membiarkan jemari jemari mencoba menterjemahkan lukisan kata-kata yang tercerai berai di udara.
Hi hi hi.. sungguh tontonan itu menyenangkan bukan? Lalu apa bisnisku dan bisnismu di sana? Biarkan aku sendiri dan bebas melihat apa yang aku mau lihat, apa yang mau aku tulis, apa yang mau aku muntahkan langsung dari tenggorokkan soak yang menggerosok lambung, atau langsung dari dubur penuh kremi itu.
Kadang-kadang hidup ini memang bisa sama busuknya dengan bau bacin di selangkanganmu, dan hidup itu bisa segar sesegar darah dari kambing muda yang baru kau sembelih pagi itu. Tidak ada yang riang dan tidak ada yang tidak dapat kau tidakkan di sini kan?
Tahukah kamu kalau aku bisa menjelma jadi nenek keparat yang jahat, dan aku bisa menjelma jadi putri salju yang belum ternoda dengan selaput dara yang tentu saja masih utuh, siap kau tembus dengan pedang berbisa itu. Tapi saat ini aku memilih untuk tidak berbuat apa apa, membiarkan semua muntahan-muntahanmu berceceran di mana-mana. mengotori tubuhku, mengotori bajuku, mengotori kemaluanku, membiarkan baunya semerbak tercium teman-temanku. Aku tidak punya muka, tidak seperti kau. Aku memilih untuk membiarkan diriku terbenam dalam mencret dan muntahmu meskipun aku bisa membersihkannya dengan parfum mesir desert of the night yang katanya magis itu. Ya, aku biarkan saja aku membusuk dalam kata-katamu, meskipun aku juga bisa membalasmu dengan racun yang lebih beracun darimu. Aku bisa membunuhmu dengan keangkuhanmu sendiri, kesombonganmu sendiri, kelakuanmu sendiri yang selama ini tidak pernah kupercikkan sedikitpun pada tubuhmu.
Kau mau tahu kenapa? Karena aku tidak sepertimu.
Biarlah busuk di tubuhku ini mengendap. Ini lebih baik dari pada kau yang memakan muntahan dan mencretmu sendiri.
ha, dan kau pasti masih mengira bahwa tulisan ini diperuntukkan untukmu! aku hanya mengembalikan cermin yang pernah kau berikan kepadaku. silahkan, berkacalah wahai ksatria...
| |