Thera's posts with tag: puisi
 | ? | Jul 14, '08 10:28 AM for everyone |
Di antara sepi aku ada Di antara perih aku sirna
Kalau boleh kuucapkan sepatah kata Di sudut ini dia mematung Di antara mendung aku merenung
Ada dirimu yang kupenjara Terkurung dan tak ingin kulepas Kubiarkan kau menderita Tersesat dalam ruang sempit dan gelap Dimana harapan dan impianku kukubur bersama mayat-mayat busuk Kukunci kau di ruangan itu hidup-hidup Membiarkan kau membara dalam kebencian Karena kekebasanmu kuredam Lalu aku menyesal dan membuka penjara itu Membiarkan kau lepas tanpa merasa bebas Karena tersungkur aku dikakimu, menangis, memohon pengampunan dan kasih sayang Meski egois aku, tak ingin biarkan kau pergi dari hatiku Yang sudah berbau busuk dan berwarna kelam, terasa perih dan pahit
Bekasi, 14 Juli 2008 **sebuah mimpi setelah malam panjang yang melelahkan
Perlahan tapi pasti bisikan-bisiskan itu mulai terdengar... Semakin lama semakin kuat Seperti ingin menyampaikan sesuatu ke telinga tuliku Dia menjelma bagiku seuntai mimpi Bersembunyi seperti singa betina mencari mangsa Siap menerkam saat aku lengah Meninggalkan bangkaiku yang terkoyak Disarangi lalat, dimakan belatung Hanya mataku yang terbelalak melihat Mencatat satu demi satu Tipu muslihat
Apapun yang kau lakukan untuk melumpuhkanku... Melekat aku pada tongkat dan gada yang kuat
Kemang Selatan, July 12, 2008
Menatap hina pada kepalsuan Sedangkan dia terperangkap di dalamnya
Pernah kau murka Karena dia tidak apa-apa Karena dia berpura-pura
Sudahlah Sampai kapan topeng kau kenakan Sajak tangis sudah kau tulis Lagu luka lama kau dendangkan
we are lost we are nothing we are dreadful piece of junk in the valley of diamond we are a chunk of rotten flesh, not even appealing for a dirty slum dog we are drowned in a substance of love, the love no one has ever given but ourselves we are lost we are nothing just a little drop of salty tear in the myriad lucid dreams in a desert storm we are lost we are nothing not even worthed to think and exist like the beast in a mysty chimerical delussion
betapa cinta adalah substansi terkuat yang paling berbahaya barang siapa dapat melihat dia akan berada dalam arena pertempuran antasa manusia dan pandora barang siapa sekedar bermimpi dia akan terjerumus dalam ikatan-ikatan aprodhite barang siapa membutakan mata dia akan dihajar panah si cupid barang siapa teraniaya, dicambuk, dan diperkosa berkali-kali akan selamanya melupakan eksistensi seribu substansi apapun karena betapa cinta adalah substansi terkuat yang paling berbahaya semua yang telah mencoba tak sadarkan diri dan terjerebab ke lubang hitamnya
cabik-cabiklah aku can kau cari esensinya! dan kau akan menemukan cacing-cacing beracun tenggelam bersama darah daging yang sudah membusuk masihkah beruntung kala masih hidup?
Thera dan Maria Dua perempuan penuh kebutaan Berserakan di tepi Star Deli Masing-masing menggenggam segelas bir Yang busanya kian pahit Sepercik alkohol memantik curhat Yang kurang lebih bunyinya seperti ini:
Wawawawahuhuhuhtralalatrililihikshikshiks hwaaaaaaaaaa!!!
Thera dan Maria Setan-setan cilik yang menarik Sedikit pathetic tapi tetap bahagia!
(yuks sis, hari jumat malem di rumah gue lagi yah... jgn lupa bawa mansion nya...)
ironis manis kalian pinta aku tinggal di sebuah rumah meski aku lebih memilih kamar sempit kusam terasing di ujung dunia tapi tak kalian beri aku sebuah kunci untuk masuk dan keluar dari rumah indah berkolam-renang yang kalian sediakan untukku
aku tidak bisa membuka pintu rumahku aku harus selalu menunggu dibukakan pintu untuk keluar atau masuk rumah dengan atau tanpa omelan karena aku tidak punya kunci dan kalian tidak menginginkan aku memilikki kunci jadi untuk apa aku tinggal di sebuah rumah mewah, untuk apa kaliah beri aku rumah yang aku tidak pernah rasa memilikki
aku tidak punya sebuah kunci jangan larang aku untuk memegang kunci itu yang bisa kupakai untuk masuk ke dalam hati kalian seperti halnya kalian tidak bisa masuk ke dalam hatiku maka izinkanlah aku untuk memetik sebuah kunci dari pohon pengertian yang kalian tanam di depan rumah saat aku masih balita dan rumah itu masih sepetak besarnya untuk masuk dan keluar rumah dengan senyum bukan cacian karena aku adalah cinderella yang kembali menjadi upik abu pada jam 12 malam karena aku juga berhak, karena aku layak diberi kesempatan untuk bertanggungjawab
sedikit saja, aku mohon sebuah ruang untuk diriku sendiri kalian sediakan tidak perlu sebuah rumah mewah cukup sebuah ruang kepercayaan, bahwa sesungguhnya aku tidak ingin merepotkan siapapun dengan kebebasan bertanggungjawab yang ingin kupeluk
(karena sesungguhnya, aku bisa saja tetap memilih kamar sepetak di ujung dunia itu. demi sebuah kunci kamar yang bisa kumilikki sendiri. tapi tokh aku memilih rumah, meski aku tak ingin, sekedar karena ingin kalian bahagia)
Dan dia menyelinap sedikit dalam setiap sekujur yang sempit Arwahku yang sudah lama kukira mati ternyata masih hidup Sebagian kecil diriku yang sudah lama kubunuh ternyata masih memetik satu demi satu bayanganku Sehingga hilang dia diamakan lautan api dan gemerlap hijau tumpukkan harta Sekarang mulai aku merindukannya, ketika aku tidak lagi berpikir dia ada Perlahan-lahan mengais Perlahan-lahan mengintip dia dengan eratnya
Compact disc rusak, 11 Maret 2008
Sampai sekarang pun nyanyian-nyanyian maut itu masih ada di kepala... Tenis Indoor menjadi dimensi ajaib tanpa penanda waktu Hanya ada suara-suara yang mengikat pikiran-pikiran sesaat Puisi-puisi ditembangkan dengan rajutan nada-nada Minor dan mayor dan dentuman dan tempo yang menghipnotis setiap detik malam Ramuan-ramuan para wonderbrass (hey, namanya seperti nama band gw hehe) Cahaya-cahaya hijau, lampu-lampu biru, dan tembakan salju penipu Seandanya saja ada asap-asap suci di paru-paru dan otakku Lengkaplah sudah ritual suci persembahan untuk si ajaib Dan ketika dia muncul dengan balutan pink bersama dahi bermahkota senada Aku sedikit ragu apakah dia manusia Mungkin setengah dewi, atau malaikat, atau alien dari galaksi tetangga Dan setelah semuanya selesai berakhirlah pula mimpi indah Kembali pada kenyataan dengan kaki pegal dan suara serak Damn... I wanna be there forever...
Aku temukan cabang-cabang yang tidak henti-hentinya bergerak, bersenandung, berlari-larian. Seperti matahari yang selalu terpaku pada senja dan manusia-manusia yang selalu terkekang dalam tangis. Dia bermain-main dalam segala warna yang bisa diciptakannya. dan aku kehilangan seni merangkai kata-kata dan lupa akan indahnya proses kreatif mencipta angan bagaikan tuhan. Aku terlalu sibuk memetakan kalian.
Lalu aku katakan dengan sangat menyesal, aku lelah membaca dan berpikir, hidup bersama arus sepetinya lebih indah. Tiada lagi robekkan-robekkan luka yang kubuat sendiri di tubuhku.
Lalu kau katakan dengan tersenyum, akankah kau merasa hidup bersama arus? tidakkah kau hanya akan menjadi sebongkah kayu yang tiada jelas akan berlabuh di mana?
Aku memang tersesat di tengah-tengah ketidak tahuanku. Mersembunyi di balik semak-semak yang pura-pura tidak tahu apa-apa, seperti aku. Maka demikianlah aku semakin tersesat, bersama dengan kalian-kalian yang mengukir nama di kehidupanku. Beberapa mengukirnya di tanganku, beberapa mengukirnya di mataku, beberapa mengukirnya di hatiku. Tapi kurasa, banyak yang tersesat ke liang vagina, terjerembab lalu bingung bagaimana caranya keluar dari lubang harum itu. Maka mereka pun mengukir namanya di sana ketika mengawang-awang bersama harum yang memabukkan.
Aku hanya ingin membuat sebuah peta di pikiranku, agar kelak aku dapat membaca kalian tanpa harus tersesat. kelak aku akan tahu di mana kalian bersarang di tubuhku.
Kemudian datanglah engkau seorang mayat berjalan. tatapanmu yang biru dan kulitmu yang menghijau bisa-bisanya memberiku kekaguman. Membuatku ingin menjadi mayat juga di taman-taman yang pernah dicita-citakan padaku sewaktu kecil. Saat Upik Abu masih menjadi Cinderella si putri bangsawan dengan bibir bergincu, dan Ibu Tiri masih seorang perawan pemalu.
Memuakkan, pemetaan-pemetaan yang malah akan menyesatkan. Betapa aku rindu ketersesatan dalam belantara kesadaran... ketika aku masih bisa mendengar Descartes perlahan-lahan berbisik di telingaku yang naif: cogito ergo sum, Thera... Ditimpa dengan jeritan yang begitu mengerikan namun menyenangkan: Carpe Diem... Karena bagiku momento mori terkadang seperti delusi...
Rangkai yang ingin kau percaya di kepala Teori teori konspirasi yang tidak pernah terbukti kau memang ingin mencari sesuatu yang akan meledakkan Duniamu yang datar dan membosankan sampai akhirnya kau bilang nyawa yang berjatuhan itu palsu Sembilan Sebelas itu palsu Langkah bulan itu palsu kematian pemimpinmu palsu Dan kau percaya apa yang hati dan pikiranmu ingin percaya meski harus merangkai kepalsuan lain untuk membingkai hidupmu yang bosan dan butuh pengakuan
Aku tidak peduli dengan bendera siapa yang berkibar arogan Nasionalitas siapa... Timur atau Barat atau bahkan negara adidaya sekalipun Aku hanya tidak tahan melihat korban berjatuhan Seperti halnya kudengar tsunami di Aceh Bom di Bali Kekerasan di Burma Dan anak-anak kelaparan di Ethiopia
Haruskan menuduh, ini salah siapa? Dan merangkai teori-teori yang mungkin hanya berlaku di kepalamu sendiri Mempertanyakan pemerintah dan media? Tentu saja... tidak ada salahnya Tapi benarkah? Pertanyakanlah
*sehabis menonton serial Pann & Teller "Bullshit" episode Conspiracy Theories, dan sekali lagi menangis saat melihat pencakar langit kembar itu jatuh dan memakan banyak nyawa.
Pelacur perawan kau sebut aku. Tidakkah kau ingat bagaimana sayap setan ini kau tancapkan dengan paksa di punggungku? Temaramnya lingkar sinar rembulan hanyalah suatu pertapaan sepi, seperti ketika kau membuai lembut vaginaku seperti seorang anak bayi. Sentuhan-sentuhan menjadi detikkan mimpi yang kau ajarkan pada pelacur perawanmu ini.
Dan sampai saat ini, tiap malam aku masih diam-diam mengendap dari sarangku. Merajut kepompongku dengan benang-benang perak yang sangat tipis. Di sana kucium aroma laut bercampur dupa. Tersamar ungkapan doa-doa dari sebuah agama yang tidak pernah aku kenal.
Selamat datang di pertapaan, kata seorang peri hijau saat ku habis membungkus diriku dengan kepompong ini. Selamat datang di pertapaan, cobalah rasa keindahan ini dalam seutas senyum dan mimpi. Suatu saat kau rasa percikan air kala sayapmu mematangkan angin.
Dan aku pun memecahkan kepompongku. Aku mencari kelahiranku kembali, sang pelacur perawan yang dulu kau setubuhi dalam temaram. Lihatlah lihat, ini sayap setan. Nyawa keindahanku bertahan dalam cahaya gelap yang terusik dalam sinar-sinar pertapaan dan doa-doa. Diantara dunia yang tidak pernah hilang dari kelamnya.
she myriadly singing inside my inner voices they are the same poems read with thousand of different sensation and I am deeply in love lith every words another butterfly tingling inside my stomach letting its golden coocon grow
Aku adalah tanaman rambat yang melilit di pagar rumahmu. Ibuku rumput liar dan ayahku dandelion. Setiap malam aku merindu ranting-ranting kokoh yang diam-diam membelaiku, memperkenalkan aku pada ruangan tanpa batas antara mimpi dan kenyataan. Setiap saat dibawanya aku pada dunia penuh cermin tanpa kita harus bercermin. Cukup diperkenalkannya aku pada keindahan-keindahan lampu yang meredup di akhir tahun dengan setiap kecupan pertamanya. Aku dibuainya begitu lembut, oleh rangkaian puisi-puisi yang disenandungkannya diam-diam untukku setiap malam menjelang tidur. Tanpa perlu berkata-kata, kami saling tahu betapa kami merindu satu sama lain. Kami meniupkan kecupan tiap malam tanpa harus bertatap, karena hati kami saling terikat diantara mimpi-mimpi yang pernah kami rangkai. Kami memunguti mutiara dan menjadikannya bola mata kami. Bersama bias terangnya kami saling memeluk. Melihat keanggunan realitas khayal masa-masa itu, berjuta-juta detik yang lalu.
Perempuan itu kembali pada tempatnya di sudut ruang. Meringkuk dan membiarkan tubuhnya mengecil menjadi debu di tepian. Seandainya saja angin bisa meniupku kemanapun mereka mau, silahkan, pikirnya.
Wajahnya tidak lagi seindah dahulu kala ketika senyum masih kerap kali menghiburnya. Kini yang tersisa hanya ruang-ruang kosong yang tertanam di hatinya.
Perempuan itu pernah hidup dan menyala. Kini cahayanya redup termakan sudut-sudut kesepian yang kosong. Jemarinya sudah kaku dan tak lagi menuliskan kata-kata. Rupanya arti sudah hilang dari pikirannya.
Perempuan itu kembali pada tempat menyepinya di sudut ruang. Merasakan benar-benar kepedihan yang paling dalam. Membiarkan rasa sakit mengajarinya arti hidup.
You were there. I knew it. I felt it. You were there. Inside me. You lived within me. You were there. In progress of creating. In process of being. You were there. Soulless. Bodiless. Nameless. Unnoticed. But I don't care. Deep inside, I believe you were there.
If my womb was too ferocious, at least, you were there alive in my imagination
Naksir PDKT Tarik Ulur Tarik Ulur Tarik Ulur Lirik sana Lirik sini Geser kanan Geser kiri Serong sana Serong sini Awas tikungan tajam! Tarik Ulur Tembak Cium Payudara Selangkangan Ribut Baikan Ribut Pura-pura ngambek Rayuan maut Rayuan maut lagi Masih pura-pura ngambek Rayuan dasyat Baikan Ciuman Selangkangan Waktu terus berjalan Bosan Bosan Bosan Bosan Selangkanang Bosan Bosan Bosan Selangkangan Bosan Selangkangan Selangkangan Selangkangan Cari masalah Selingkuh Selangkangan (Lain) Bosan Cari masalah Selingkuh Putus
 | Ha.Ha. | Dec 11, '07 12:10 PM for everyone |
Kau lucu sekali... Kau sangka semudah itukah aku? Nyatanya semua pikiran yang diciptakan manusia adalah indah kala kulihat dengan kaca mata yang aku kenakan Aku percaya kaca mata ini dapat mengukir kedamaian Ah, seandainya saja semua orang seperti aku Berakhirlah semua perdebatan-perdebatan omong kosong Seperti botol wine kosong bertabrakan dengan tong
Bunyinya mengagetkanku, menyadarkanku bahwa ternyata aku berdiri cukup tegak Ternyata gubug derita yang kubangun berdiri cukup kokoh

Maaf, maaf, sekali lagi maaf karena saya telah menelusup tepat ke kehidupan anda yang nyaman tentram dan tenang. Karena mata ini mata coklat si pecundang yang tidak pernah bisa diam kala terlihat pesona gelagat yang membakar hasrat. Sekali lagi maaf kalau saya bergulung-gulung bersama ombak kehidupan yang kalian ciptakan, mungkin saya hanya sekedar pencari perhatian, kenikmatan, dan tentunya_petualangan. Tokh saya tidak tahu, sungguh tidak tahu, kenapa orang tua saya melahirkan saya, dan kenapa Tuhan merestuinya.
Dan saya sudah mengganggu perkawinan-perkawinan kalian. Maaf sungguh maaf, saya tak pernah bermaksud untuk merusak istana yang selama ini kalian bangun bersama. Bukan maksud saya kalau saya tidak tahan melihat orang lain berbahagia lalu kemudian usil dan merusaknya... sungguh, sama seperti kalian semua, saya hanya ingin sedikit saja mencicipi makanan penutup yang kalian namakan kebahagiaan itu. Maaf, sungguh maaf kalau saja mulut ini berbicara dengan bahasa yang bernama dosa. Sungguh maaf bila otak ini terbuat dari bacin dan hangusnya telaga murka. Sungguh maaf saat kau temukan kelaminku penuh dengan kebusukkan sisa peninggalan-peninggalan kebodohan masa lalu, jalang-jalang itu telah mentato namanya di rahimku, dan aku tak tahu bagaimana cara membersihkannya. Bau busuknya itu sungguh aku tak tahan, dan maaf bila itu bukan yang kau inginkan. Maaf, sungguh maaf atas garisan sejarah kehidupanku yang seperti demikian, hingga di mata kalian aku hadir sebagai bunda dari para jalang yang memperkosa ibunya.
Maaf, darahku telah mengotori kemurnian yang kalian pernah ciptakan.
| |