Thera's posts with tag: thought

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag thought
Blog EntrySejarah musik rock indonesia?Jul 14, '08 2:04 AM
for everyone
Jakarta Rock Parade - Day 3

Waktu kuliah, katanya yang membedakan sejarah dan pra-sejarah adalah ketika manusia kenal tulisan. Sebelum manusia kenal tulisan, disebutnya pra-sejarah... dan setelah manusia tahu caranya menulis, kita memasuki masa sejarah.

Jadi apa yang dibutuhkan untuk membuat sejarah? Perang? Deklarasi? Bom atom? Apapun itu, selama hal tersebut tercatat manusia, maka dia tercatat dalam sejarah. Kebalikkannya, kalau sesuatu hal yang penting tidak tercatat manusia sama sekali, maka kejadian tersebut akan terlupakan dari sejarah.

Lalu saya belajar sastra, ilmu budaya, dan teori-teori postmodernisme. Doktrin-doktrin yang saya terima mengatakan bahwa sejarah itu bisa memiliki versi yang berbeda, tergantung dari mata siapa sebuah kejadian bersejarah itu disaksikan, siapa yang menulis dan dari sudut pandang apa. Contoh singkatnya, sejarah G30SPKI yang sekarang mulai diragukan kebenarannya... coba tanya seorang komunis (atau x-komunis) yang dibungkam negara, sejarah yang dia katakan pasti berbeda versi dari sejarah versi Orba yang selama ini kita tahu. Jadi, sebenarnya sejarah itu subjyektif (Teman-teman yang dari jurusan Sejarah pasti gak sejuju...hohoho... peace yha...)

Akhir minggu kemarin, baru saja dilaksanakan sebuah acara Parade Musik Rock Jakarta  (Jakarta Rock Parade) yang jargonnya adalah "Let's Make History". Sayang ternyata hasil yang tercatat dari sejarah itu tidak sesuai harapan banyak orang. Banyak pengisi acara membatalkan penampilannya karena masalah pembayaran, banyak pula penonton mengeluh perihal tiket masuk yang terlalu mahal sementara band-band import yang ditunggu-tunggu membatalkan penampilannya juga.  

 Saya malas mencatat hal yang buruk-buruk karena saya yakin media masa dan kritikus gigs sudah melakukannya (no offense yah, guys...) Berikut adalah catatan sejarah dari sudut pandang saya_subyektifitas saya.

Berhubung band saya masih melacur, jadi kami tidak menuntut apa-apa dalam hal pembayaran. Menjadi bagian dalam *apa yang mereka bilang* sejarah juga sudah senang. JRP menjadi panggung yang spesial bagi kami karena pada saat itu lah kami merasa tampil dengan sangat maksimal (walaupun terdapat human error pada bagian sound panggung - vokal gue tiba2  bergema dan output bass kurang terdengar) Hal yang paling utama, karena kami kini bersama drummer additional baru. Bermain di tempo yang aman dan groove yang dicari, saya merasa jauh lebih rileks dan bebas kekhawatiran. Sekarang saya tahu perasaan seorang Iman Fattah waktu jatuh hati pada Uta... hehehe. (Saat ini kami sedang dalam masa pendekatan dengan drummer baru itu, doakan kami semoga suatu saat dia mau bergabung bersama kami ya...) Sebenarnya kami ingin membawakan 7 lagu, tapi sayang sekali, panitia memotong waktu kami di tengah-tengah sehingga hanya 4 lagu yang kami bawakan. Kami memperkenalkan dua lagu baru, yang sambutannya cukup positif dari teman-teman.

Keajaiban lain yang tidak kami sangka, yaitu ketika kami tampil di panggung lounge dan ZATPP memulai penampilannya di indoor. Sebagian penonton tersedot ke indoor, tapi cukup banyak yang bertahan di luar untuk menyaksikan kami. Mengagetkan dan sangat membahagiakan mengingat siapalah kami dibanding band sekeren ZATPP :-D

Hal lain yang juga ingin saya catat, *narsis alert* ada beberapa orang dari band lokal bertaraf internasional yang selama ini saya kagumi_ memuji penampilan kami. Biduanitanya yang merupakan salah satu referensi koreografi dan interaksi di panggung buat saya bahkan memuji secara berlebihan. (gue malu dan ge-er berat dengernya... masih merasa belom pantas dengar pujian seperti itu...)

Ok, enough about us... now about other bands.

Saya belajar satu pal penting dalam JRP: soal kerendahan hati. Saya tahu banyak band yang membatalkan penampilannya karena masalah pembayaran, dan mereka sangat berhak melakukan hal tersebut. Tapi saya cukup terharu melihat beberapa band/musisi yang sebenarnya ingin sekali mensupport acara ini, bahkan mereka rela main meski bayaran belum lunas. Adrian Adioetomo misalnya. Ketika saya dapat kabar burung soal akan dibatalkannya hari ke-3, saya langsung menghubungi beberapa teman yang juga akan tampil. Ian dengan sabar berkata, bahwa apapun yang terjadi dia akan tetap datang. Ketika tampil di panggung pun Ian tetap memuji usaha dan kerja keras panitia. Kerendahan hati yang patut jadi teladan bagi kita semua... kalau tidak ingin mensupport panitianya, minimal kita support musik dan semangatnya (tapi jangan dijadikan alasan bagi EO - EO di luar sana untuk mencari band gratis yhaaa... being humble is not the same as being stupid lhoooo...) 

Lalu, saya sangat bersyukur dengan kesempatan menyaksikan Southern Beach Terror yang banyak dibicarakan itu... Mereka attraktif sekali! benar-benar aroma baru bagi telinga-telinga yang sudah haus variasi baru musik rock di Indonesia. Dan juga tentunya, sangat bersyukur bisa menyaksikan MONO dan mendapatkan tanda tangannya di balik ID performer saya (Special thanks to Rekti, yang mau dititipin ID, hehehe) Mereka bernyawa di panggung seperti manusia-manusia bisu, tidak berbicara sama sekali, tapi dengan ajaib saya mengerti apa yang ingin mereka katakan dari musiknya: seperti inilah bunyi dari rasa sakit, perih, kesepian, dan amarah_ pelajari baik-baik, nak. Hidup tidak selamanya warna-warni seperti gulali.

Jumlah penonton yang sedikit sebenarnya memberi banyak keuntungan. Berjumpa dengan teman-teman yang saling kita kenal, jalan tanpa perlu berdesak-desakkan, dan suasana yang lebih akrab antara panggung dan penonton: hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan dalam acara-acara besar pada umumnya.

Terima kasih untuk panitia yang sudah berusaha. Keputusan untuk terus menjalankan acaranya sampai hari ke-tiga dan mengurangi 4 panggung menjadi 2 panggung adalah keputusan mendadak yang sangat bijak. Semoga acara pertama ini menjadi tempat untuk belajar dari kesalahan (dan banyaaaaaak sekali yang harus dipelajari!!! Baaaaanyaaaaakkk!!! Gue nulis hal-hal positif di sini bukan berarti gue 100% puas sama kerja panitia lho...)

Demikianlah catatan sejarah versi saya. Saya yakin anda mempunyai sudut pandang sendiri dalam melihat event kemarin_ sudut pandang performer, sudut pandang penonton, atau bahkan sudut pandang panitia. Catatlah dan publikasikan pada blog anda, dan kita pun berhasil membuat sejarah.

Blog EntryBetapa indahnya masa kuliah...Feb 19, '08 4:03 AM
for everyone
Sebuah reply di blognya FIFA, temen SMA gue yang kuliah di FSRD ITB (klik namanya untuk link)


Betapa indahnya masa kuliah...
Dapet uang jajan dari org tua (belom lagi ditambah nyatutnya)
Dapet pencerahan dari kuliah2 keren (kuliah umum gak termasuk)
Belajar mandiri indekos (dan bebas nginep d mana aja, hiihihii)
Jeans robek kaos barong
Selinting daun surga di tepi danau UI sambil membaca novel "On the Road" karya Jack Kerouac
Atau mendengarkan MP3 dimana paman Jim menyanyikan lagu "Alabama Song"
Weekend tiba, saatnya manggung bersama band tercinta
Atau sekedar kongkow di sudut favorit cafe bawah tanah itu
Bir dan liquor gratisan pun tak jarang berdatangan (karena uda kenal waitress dan bartendernya)

Lalu gue lulus (bangsat..)
Bonyok gak mao kasih duit lagi (damn!!!)
Mendadak dilarang ngekost karena bonyok takut anaknya makin edan (kembali jadi benalu di rumah mama)
Bye bye jeans sobek, welcome rok bego
Bye bye kaos bali barong bolong2, welcome kemeja
Bye bye sendal jepit, welcome high heels
Bye bye bohemian lifestyle, welcome constructed life

Pada akhirnya kita selalu terpaksa menjadi baut kecil di sebuah clockwork raksasa, we're all Clockwork Orange at the end... hiks...

(Sastra UI dan FSRD ITB ternyata gak jauh beda yah, Fif...)

Blog Entryberjuta-juta detik yang laluDec 20, '07 12:23 PM
for everyone
Aku adalah tanaman rambat yang melilit di pagar rumahmu. Ibuku rumput liar dan ayahku dandelion. Setiap malam aku merindu ranting-ranting kokoh yang diam-diam membelaiku, memperkenalkan aku pada ruangan tanpa batas antara mimpi dan kenyataan. Setiap saat dibawanya aku pada dunia penuh cermin tanpa kita harus bercermin. Cukup diperkenalkannya aku pada keindahan-keindahan lampu yang meredup di akhir tahun dengan setiap kecupan pertamanya. Aku dibuainya begitu lembut, oleh rangkaian puisi-puisi yang disenandungkannya diam-diam untukku setiap malam menjelang tidur. Tanpa perlu berkata-kata, kami saling tahu betapa kami merindu satu sama lain. Kami meniupkan kecupan tiap malam tanpa harus bertatap, karena hati kami saling terikat diantara mimpi-mimpi yang pernah kami rangkai. Kami memunguti mutiara dan menjadikannya bola mata kami. Bersama bias terangnya kami saling memeluk. Melihat keanggunan realitas khayal masa-masa itu, berjuta-juta detik yang lalu.

Blog EntryHanya Sebuah Puisi Tanpa ArtiDec 20, '07 12:12 PM
for everyone
Perempuan itu kembali pada tempatnya di sudut ruang. Meringkuk dan membiarkan tubuhnya mengecil menjadi debu di tepian. Seandainya saja angin bisa meniupku kemanapun mereka mau, silahkan,  pikirnya.

Wajahnya tidak lagi seindah dahulu kala ketika senyum masih kerap kali menghiburnya. Kini yang tersisa hanya ruang-ruang kosong yang tertanam di hatinya.

Perempuan itu pernah hidup dan menyala. Kini cahayanya redup termakan sudut-sudut kesepian yang kosong. Jemarinya sudah kaku dan tak lagi menuliskan kata-kata. Rupanya arti sudah hilang dari pikirannya.

Perempuan itu kembali pada tempat menyepinya di sudut ruang. Merasakan benar-benar kepedihan yang paling dalam. Membiarkan rasa sakit mengajarinya arti hidup.

Blog EntryBye bye, baby bye byeDec 16, '07 4:24 PM
for everyone
You were there. I knew it. I felt it.
You were there. Inside me. You lived within me.
You were there. In progress of creating. In process of being.
You were there. Soulless. Bodiless. Nameless. Unnoticed.
But I don't care.
Deep inside, I believe you were there.

If my womb was too ferocious,
at least, you were there
alive  in my imagination

Blog EntryMengikat SepatukuDec 10, '07 12:56 PM
for everyone
Ibuku mengajarkan aku cara mengikat tali sepatu seperti mengikat dua kuping kelinci secara bersamaan. Tapi, mayoritas dari teman-temanku lebih suka mengikat tali sepatu seperti membiarkan seekor tupai lari mengitari sebatang pohon kecil. Mereka berdebat tentang cara mengikat sepatu yang paling benar, paling nyaman, dan paling mudah. Buatku, dua-duanya sama saja.

Tetapi kemudian aku menemukan cara mengikat tali sepatu yang lebih kreatif. Kumainkan tali sepatu seperti aku membiarkan tupai lari mengejar kelinci di bawah pohon kurus, lalu pohon tersebut tertiup angin hingga ranting-rantingnya kusut dan saling mengikat. Sementara kelinci dan tupai? Mereka piknik dan saling berbagi wortel serta kenari. Ibu dan teman-temanku tidak suka melihat caraku mengikat sepatu, menurut mereka caraku mengikat sepatu adalah penyimpangan dari cara-cara yang lebih benar. Aku tidak peduli, menurutku, tali sepatuku tampak lebih indah dan lebih sulit dilepas sekalipun aku terantuk batu. Aku sering dipandang sebagai anak aneh karena caraku mengikat sepatu, dan ibu serta teman-temanku masih saja mengeluh tentang caraku mengikat sepatu.

Ya, apa peduliku? Mereka bebas mengikat sepatunya dengan cara yang mereka mau. Itu sepatu mereka dan kaki mereka. Ini sepatuku dan ini kakiku. Cara seperti inilah yang paling cocok denganku, dan aku merasa sangat nyaman dengan caraku mengikat sepatuku. Apapun caranya dalam mengikat sepatu, tokh tujuannya tetap sama: mengikat tali sepatu agar tidak terlepas, terinjak, dan tersandung.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help